Konsep Pemikiran Ekonomi Pancasila dan Asas-Asas Manajemen dalam BUMN/BUMD
Konsep pemikiran ekonomi Pancasila dari Ginanjar Kartasasmita, pada dasarnya bertujuan kemakmuran masyarakat bukan kemakmuran orang seorang. Namun menekankan kepada proses kemakmuran bersama, dengan memperhatikan aspek pemerataan.
Pemikiran ekonomi Pancasila ini termaktub dalam Pasal 33 UUD 1945, yang mengamanatkan peran aktif atau kehadiran negara selaku pengatur pasar maupun selaku pelaku pasar (baik sebagai konsumen atau produsen) dan menetapkan barang atau jasa apa yang seharusnya negara terlibat disana untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yaitu yang menguasai hajat hidup orang banyak dan vital bagi negara.
Pasal 33 UUD 1945 ini secara mudahnya dapat disebut sebagai paham pasar terkendali dengan pelaku utama adalah negara baik langusung maupu tidak langsung melalui BUMN/BUMD dan koperasi untuk bermitra dengan swasa. Lalu alokasi sumber daya ekonomi digerakkan oleh paham keberpihakan. (Ginandjar Kartasasmita, Pembangunan untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan).
Keberpihakan dalam ekonomi Pancasila dimaksudkan agar alokasi sumber-sumber daya ekonomi dijalankan se-efisien dan se-efektif mungkin dengan selalu mengutamakan aspek pemerataan. Bukan keberpihakan yang mengharapkan trickle down effects namun memperburuk Gini Ratio sehingga bangsa Indonesia hanya menjadi konsumen atau pasar dari produksi negara lain.
Padahal konsep ekonomi Pancasila (Ginandjar Kartasasmita: 1996), menjunjung tinggi pemberdayaan ekonomi rakyat dimana terdapat upaya pengerahan sumber daya untuk mengembangkan potensi ekonomi rakyat untuk meningkatkan produktivitas sehingga sumber daya alam yang ada dapat diimbangi pemanfaatannya oleh skilled worker yang ada.
Adapun berbicara mengenai pemikiran ekonomi liberal, merupakan konsep ekonomi yang mentitik beratkan pada kehendak pasar dimana kemakmuran difokuskan pada orang-per-orang dengan pemahaman bahwa bila tiap-tiap orang dapat memakmurkan dirinya sendiri maka makmurlah seluruh masyarakat dengan sendirinya (invisible hand). Di dalam proses menuju kemakmuran semua orang ini lah yang kurang mendapat perhatian dan tidak ditarget kapan terwujudnya (free fight market). Pemilik modal dan privileged person tentu saja menjadi aktor utama dalam ekonomi liberal.
Pada ekonomi liberal, negara tidak memiliki/menguasai tanah, sumber-sumber alam, produksi dan distribusi. Bila membutuhkan, negara bisa membeli aset-aset modal tersebut sebagaimana pelaku pada pasar swasta seperti biasa. Dalam artian, terdapat regulasi sistem pasar yang minimum dan efisiensi dicapai dengan mempercayai skala ekonomi, peluang dan spekulasi pasar, trickle down theory, free trade market, free investment dan globalisasi perdagangan seluas-luasnya.
Pada praktiknya, ekonomi liberal dapat berkembang mengantarkan negara menjadi maju namun jurang ekonomi antara si kaya dan si miskin teramat sangat jauh. Bahkan seperti misalnya, kekayaan perusahaan Apple mengalahkan pendapatan negara bagian California di Amerika Serikat, padahal perusahaan itu berdiri di wilayah California itu sendiri.
ASAS-ASAS MANAJEMEN
Menurut Drs. H. Malayu S.P Hasibuan, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Dari definisi salah satu ahli tersebut, saya berpendapat bahwa manajemen memiliki beberapa komponen utama, yakni:
- Ilmu dan seni untuk mengatur (to manage)
- SDM dan sumber daya lain (6 M: Men, Money, Methods, Materials, Machines and Market)
- Dengan efektif dan efisien
- Untuk tujuan tertentu
Sebagai ilmu, manajemen memiliki sifat yakni berkembang secara teoritis, dapat dibuktikan, meramalkan, memberikan definisi dan memberikan kepastian ukuran. Sementara sebagai seni, manajemen dapat dikatakan berkembang secara praktis, lebih pada penonjolan kepekaan subject manajemen, penerkaan kejadian, menguraikan dan mengajar subject serta seni dalam memberikan pendapat.
Dalam praktiknya,terdapat asas-asas manajemen yang memberikan dasar dari penerapan manajemen untuk mencapai tujuan ideal setiap organisasi. Asas-asas itu dikenalkan oleh Henry Fayol, yakni asas:
- Division of work (pembagian kerja)
- Authority and Responsibility
- Discipline
- Unity of Command (kesatuan perintah)
- Unity of Direction (kesatuan tindakan)
- Subordination of Individual Interest into General Interest
- Renumeration of Personal
- Centralization
- Scalar of Chain (Hierarchy)
- Order
- Equity
- Initiative
- Esprit de Corp
- Stability of Turn-over of Personnel
Berbicara tentang manajemen tentu tidak bisa lepas dari subject penting yang menjalankannya, yakni manajer. Jika merujuk pada pertanyaan; apakah untuk menjadi seorang manajer hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berbakat saja? Secara gamblangnya adalah tidak. Karena sebagai ilmu, tentu saja manajemen bisa diajarkan kepada siapapun untuk menguasai ilmu manajerial.
Sebagai pemimpin, seorang manajer dituntu untuk menjalankan sistem manajemen yang ada agar tujuan organisasi bisa tercapai dengan cara yang efektif dan se-efisien mungkin. Robert Tanembaum berpendapat bahwa pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasi, mengarahkan dana, mengontrol para bawahan yang bertanggungjawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan. Hal-hal seperti ini lah yang menjadi tugas pokok manajer dan tentu saja bisa dipelajari dan diajarkan.
Manajer sebagai pimpinan organisasi dan yang menjalankan manajemen harus memiliki karakteristik pemimpin seperti:
- Diakui sebagai anggota kelompok
- Memiliki hubungan interpersonal yang kuat
- Beradaptasi dengan struktur hubungan yang sudah ada
- Memahami kearah mana struktur akan berubah
- Menyadari bahwa makin kuat kepemimpinan maka makin tidak bebas si pemimpin itu sendiri
Ditambahkan lagi menurut GR. Terry, setidaknya ada 7 kualitas manajer yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin:
- Energi (kemampuan fisik untuk bertindak dan berusaha)
- Stabilitas emosi (kesehatan jiwa dan mental)
- Human relationship
- Personal motivation
- Communication skills
- Social skills
- Technical competent
Dan pada penerapan bagaimana seseorang bisa menjadi manajer, dikenal beberapa teori kepemimpinan, yakni:
- Great man theory
- Trait theory
- Situational theory
- Personal situation theory
- Kepemimpinan transaksional
- Kepemimpinan kharismatik
- Kepemimpinan transformatik
Dengan demikian, pada kesimpulannya saya berpendapat bahwa menjadi seorang manajer bukan hanya bisa dilakukan oleh orang yang berbakat saja, ia membutuhkan kualitas pribadi, keinginan yang kuat untuk belajar, praktik dan usaha-usaha kontinyu untuk bisa memimpin dan menjalankan sistem manajemen yang ada.
“Sebab manusia hebat itu tidak dilahirkan, ia diciptakan. Dan Roma tidak dibangun dalam waktu semalam.”
No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...