Showing posts with label Logika. Show all posts
Showing posts with label Logika. Show all posts

[LOGIKA] Pengertian, Macam-Macam dan Semua Hal Dasar Tentang Ilmu Logika Beserta Contoh


ARTI DARI ILMU LOGIKA

Apakah Logika Itu? Apa yang dimaksud dengan ilmu logika? Terdapat beberapa pengertian dan definisi logika menurut para ahli ilmu pengetahuan dan filosofi dari berbagai belahan dunia. Berikut akan diberikan daftar arti ilmu logika menurut para ahli.

Menurut Alex Lanur (1983: 7)

Logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat)

Menurut pendapat Poespoprojo (2011: 13)

Logika adalah ilmu dan kecakapan menalar, berpikir dengan tepat (the science and art of correct thinking)

Menurut Sidi Gazalba (1991: 41)

Logika adalah hukum untuk berpikir tepat, sehingga membentuk pengetahuan yang tepat.

Menurut Ahmad Dardiri (2017: 4)

Logika adalah studi mengenai metode dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk membedakan penalaran yang benar dari penalaran yang salah (the study of methods and principles used to distinguish good (correct) from bad (incorrect) reasoning)

Menurut Kleinman (2013: 5) dalam Ahmad Dardiri (2017: 4)

Logika adalah salah satu tema filsafat yang berkaitan dengan bagaimana membuat argumen yang valid. Logika merupakan alat yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan

PERBEDAAN LOGIKA FORMIL DAN MATERIL BERIKUT CONTOH


Disebut logika formil, apabila difokuskan pada bentuknya, yaitu pembentukan pengertian, putusan, dan penyimpulan. Ketiga hal ini disebut juga sebagai kerangka atau unsur logika.

Disebut logika materil, apabila pemikiran itu tidak hanya tepat menurut bentuknya, tetapi juga benar menurut isinya. Artinya, isi atau muatan suatu pengertian, putusan, dan penuturan itu mengandung kebenaran.

Tugas logika formil dilanjutkan oleh logika materil. Penyimpulan itu tepat, apabila dalam putusan yang diharuskan ditarik kesimpulan sesuai dengan kaidah. Kemudian, penyimpulan itu benar, apabila kesimpulan menurut kaidah ditarik dari putusan (premis) yang benar, yakni mengatakan dengan benar keadaan yang sesungguhnya.

Contoh:
Semua manusia pasti akan mati (premis mayor)
Adam adalah manusia (premis minor)
Adam pasti akan mati

PERBEDAAN TEPAT DAN BENAR DALAM LOGIKA


Perbedaan antara tepat dan benar. Sesuatu yang benar adalah tepat. Tetapi yang tepat belum tentu benar.

Contoh:
Seorang karyawan mengeluarkan biaya hidupnya selama satu bulan sebanyak tiga juta rupiah. Sementara gaji yang diperolehnya hanya dua juta. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia ‘nyambi’ ngojek di sela-sela kegiatan kantor. Akibatnya ia mendapat sangsi dan gajinya dikurangi. Bagaimana sifat keputusan itu? 

MAKSUD DAN TUJUAN DARI ILMU LOGIKA


Maksud dan tujuan logika. Maksud logika adalah membentuk pengetahuan yang tepat dengan jalan berpikir; adapun tujuan akhirnya adalah menghasilkan pengetahuan yang benar. Untuk terwujudnya pengetahuan yang benar, tentu harus tersedia bahanbahan yang benar pula. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyek yang sesungguhnya.

LOGIKA SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN


Ilmu Pengetahuan atau kadang hanya disebut ‘ilmu’ (science) adalah kumpulan pengetahuan (knowledge) tentang pokok tertentu. Kumpulan ini merupakann suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan tersebut terjadi dengan menunjukkan sebab-musababnya.

Setiap cabang ilmu membatasi diri pada salah satu bidang tertentu, dan mempelajari bidangnya itu dari segi tertentu. Pertanyaan yang terus menerus diajukan dalam setiap ilmu adalah: apa yang terjadi, bagaimana, dan mengapa. Menjelaskan sesuatu berarti menunjukkan bagaimana hal yang satu berhubungan dengan hal yang lain.

Lapangan ilmu pengetahuan tersebut, meliputi azas-azas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan benar. Agar dapat berpikir lurus, tepat, dan benar, logika berperan menyelidiki, merumuskan, dan menerapkan ‘hukum-hukum’ yang harus ditepati.

Logika dengan demikian bukanlah sebuah teori belaka, melainkan merupakan keterampilan atau kecakapan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek. Oleh karena itu, logika disebut filsafat yang praktis.

BATAS ILMU LOGIKA DAN TEORI PENGETAHUAN


Logika menentukan norma-norma berpikir, supaya pemikiran itu membentuk pengetahuan yang tepat. Sedangkan teori pengetahuan membentuk pengetahuan yang benar tentang obyek dalam bentuk putusanputusan. Apabila logika mempergunakan putusan teori pengetahuan yang benar sebagai premis, maka pengetahuan yang dihasilkan logika itu bukan saja tepat, tetapi juga benar.

Contoh:
Semua mahasiswa prodi ilmu sejarah mengikuti PKKMB
Ali adalah mahasiswa prodi ilmu sejarah
Ali mengikuti PKKMB.


[TUGAS LOGIKA] Antilogisme dan Dilema Dalam Hubungannya Dengan Penarikan Kesimpulan

[TUGAS LOGIKA] Antilogisme dan Dilema Dalam Hubungannya Dengan Penarikan Kesimpulan

Pada akhir tuton ini, silahkan Anda simak kembali materi Inisiasi 8 Antilogisme dan Dilema. Selanjutnya Anda jawab dan diskusikan pertanyaan berikut ini:

Jelaskan konsep tentang Antilogisme dan Dilema dalam hubungannya dengan penarikan kesimpulan?
Penalaran logis merupakan dasar dari penarikan kesimpulan. Bagaimana halnya kesimpulan yang didasarkan pada Antilogisme dan Dilema? Berikan contohnya!
Silahkan diskusikan,
Tutor

pemrograman membutuhkan ketelitian dan logika programmer yang mumpuni | credit: www.unsplash.com

PENGERTIAN DAN HUKUM DASAR ANTISILOGISME


Antisilogisme atau pengujian silogisme adalah “suatu ingkaran kesimpulan pada silogisme majemuk yang menimbulkan ketidakselarasan antara premis dan kesimpulan”. 

Antilogisme dapat didefinisikan sebagai suatu pengingkaran kesimpulan bentuk silogisme yang akan terwujud ketidakselarasan antara premis dan kesimpulan. Antisilogisme digunakan untuk menguji silogisme majemuk. Adapun produk atau hasil akhir dari antilogisme merupakan pernyataan bahwa yang tepat adalah kesimpulan semula, sebab kesimpulan yang kedua diingkari.

Hukum dasar antisilogisme:
“Ingkaran kesimpulan dari silogisme majemuk yang mewujudkan ketidakselarasan dengan premisnya, maka yang tepat adalah kesimpulan semula”

Pembuktian dari antilogisme, yaitu ke-tepat-an kesimpulannya dengan diagram himpunan.

PENGERTIAN DILEMA DAN MACAM-MACAM DILEMA DALAM ILMU LOGIKA


Dilema atau penyimpulan bercabang adalah;

“Penyimpulan dalam silogisme majemuk yang lebih kompleks dengan dua proposisi implikatif sebagai premis mayor dan proposisi disjungtif sebagai premis minor, yang mewujudkan kesimpulan yang bercabang”

Dilema adalah bentuk penyimpulan berpangkal pada dua pernyataan dengan hubungan ketergantungan antara dua bagian yang mewujudkan kesimpulan bercabang.

Dilema digunakan di dalam perbincangan, yang menuntut teman bicara harus mengambil kesimpulan yang sulit atau tidak menyenangkan, untuk menuntut keadilan.

Atas dasar sistem penalarannya, ada 2 (dua) macam Dilema : Konstruktif dan Destruktif. Konklusinya, berupa proposisi disjungtif, tetapi bisa proposisi kategorika. Dalam konsep Dilema, terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya memiliki berat sama. Adapun konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan. Dalam debat, dilema dipergunakan sebagai alat pemojok, sehingga alternatif apapun yang dipilih, lawan bicara selalu dalam situasi tidak menyenangkan.

HUBUNGAN ANTILOGISME DAN DILEMA DALAM PENYIMPULAN


Hubungan Antilogisme dan Dilema dalam Penyimpulan langsung sesuai dengan penjelasan diatas, maka saya menarik kesimpulan bahwa antilogisme berperan sebagai penguji untuk silogisme majemuk apakah selaras  atau tidak terhadap premis dan kesimpulan, hasil silogisme yang sesuai adalah silogisme yang semula sebelum di ingkari.

Sedangkan dilema adalah penyimpulan bercabang maksudnya adalah uraian dari argumentasi kedua jenis silogisme yaitu (hipotetik dan silogisme disjungtif). Kenapa demikian? Karena premis mayornya terdiri dari dua proposisi hipotetik dan premis minornya satu proposisi disjungtif, tetapi bisa proposisi kategorik. Konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan, dan dalam sebuah perdebatan, dilema dipergunakan sebagai alat pemojok, sehingga alternatif apapun yang dipilih, lawan bicara selalu dalam situasi tidak menyenangkan.



Penyimpulan antisilogisme didasarkan pada hukum dasar antisilogisme sebagai suatu TAUTOLOGIS (silogisme yang mesti benar), yang disusun oleh silogisme kondisional dengan cara: “ingkari konsekuen dengan menetapkan salah satu anteseden, maka kesimpulannya cukup ingkari salah satu antesedennya. Langkah tersebut mengikuti cara modus tolendo tolen (dalam silogisme ekuivalen).

Berdasarkan kaidah antilogisme  sebagai suatu tautologi dapat disusun juga suatu silogisme kondisional dengan cara "mengingkari konsekuen dengan menetapkan salah satu anteseden maka kesimpulannya cukup mengingkari salah satu antesedennya."

Contoh : jika setiap rakyat Indonesia sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan (p), dan tidak semua warga PDI sama kedusukannya dalam hukum dan pemerintahan (~r) maka berarti tidak semua warga PDI adalah rakyat Indonesia (~q).

Kesimpulan yang bercabang dapat juga satu kesimpulan berupa pernyataan tunggal sebagai gabungan dua kesimpulan yang sama. Bentuk penyimpulan dilema sering digunakan dalam perbincangan untuk menuntut pada lawan bicara.


Contoh:
Kristus ditampar oleh prajurit yang mengawalnya kemudia beliau berkata; saya berkata benar atau salah, bila saya berkata benar mengapa saya kautampar, bila saya berkata salah buktikan.

Contoh sederhana lainya adalah:
  • Semua Rakyat Indonesia sama Kedudukannya dalam Hukum dan Pemerintahan.
  • Semua Anggota DPR adalah Rakyat Indonesia.
  • Semua Anggota DPR adalah sama kedudukannya dalam hukum dan Pemerintahan.


Contoh :
  • Jika Ismail jujur Solikin akan membencinya.
  • Jika Ismail tidak jujur Rahmat akan membencinya.



Sumber:
Modul Logika Universitas Terbuka ISIP4211 Bab Antilogisme dan Dilema


PENJELASAN LENGKAP SILOGISME KATEGORIS DAN CONTOH-CONTOHNYA - PRINSIP PENYIMPULAN ILMU LOGIKA

DEFINISI SILOGISME KATEGORIS

Penyimpulan Langsung didefinisikan sebagai “suatu proses penarikan langsung kesimpulan dari satu proposisi (premis) saja atas dasar pembandingan term subyek dan term predikat-nya”,

Maka SILOGISME KATEGORIS adalah “suatu proses penarikan tidak langsung kesimpulan dari dua proposisi (premis mayor dan premis minor) atas dasar term pembanding (term tengah)” [Bakry, 2012: 6.4]. Sebab itu, Penyimpulan tidak langsung disebut “Silogisme”. Atau, disebut dengan “Silogisme kategoris”, karena silogisme tersebut berada di dalam proposisi-proposisi kategoris.

Misalnya,
*Premis mayor   (A) : UT adalah perguruan tinggi di Indonesia.
*Premis minor    (B) : Logika adalah mata kuliah yang diajarkan di UT.
*Kesimpulan      (C) : Logika adalah mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi di Indonesia.
Term tengah       (X) : UT

ARTI DARI PREMIS MAYOR DAN PREMIS MINOR

Premis mayor (term pangkal banding) adalah “proposisi yang mengandung term predikat pada kesimpulannya”.
Premis minor (term yang dibandingkan) adalah “proposisi yang mengandung term subyek pada kesimpulannya”.

Ada dua macam silogisme kategoris yakni silogisme beraturan dan silogisme tidak beraturan. Silogisme kategoris harus mematuhi Hukum dasar penyimpulan sebagai penyimpulan yang sah (tepat), bukan benar atau salah. 

PRINSIP-PRINSIP PENYIMPULAN

Prinsip-prinsip penyimpulan merupakan hukum dasar penyimpulan, yang terbagi 2 macam, yang memiliki 7 hukum dasar penyimpulan, yaitu:

Prinsip Konotasi Term Dalam Silogisme

Atas dasar prinsip konotasi term atau prinsip persamaan dan prinsip perbedaan, ada 3 hukum dasar penyimpulan:
  • Dua hal yang sama, jika yang satu diketahui sama dengan hal ketiga, maka yang lain pun pasti sama.
  • Dua hal yang sama, jika sebagian yang satu termasuk dalam hal ketiga, maka sebagian yang lain pun termasuk di dalamnya.
  • Antara dua hal, jika yang satu sama dan yang lain berbeda dengan hal ketiga, maka dua hal itu berbeda.

Prinsip Denotasi Term Dalam Silogisme

Atas dasar prinsip denotasi term atau prinsip distribusi dan prinsip distribusi negatif, ada 4 hukum dasar penyimpulan:
  • Jika sesuatu hal diakui sebagai sifat yang sama dengan keseluruhan, maka diakui pula sebagai sifat oleh bagian-bagian dalam keseluruhan.
  • Jika sesuatu hal diakui sebagai sifat yang sama dengan bagian dari suatu keseluruhan, maka diakui pula sebagi bagian dari keseluruhannya itu.
  • Jika sesuatu hal diakui sebagai sifat yang meliputi keseluruhan, maka meliputi pula bagian-bagian dalam keseluruhan itu.
  • Jika sesuatu hal tidak diakui oleh keseluruhan, maka tidak diakui pula oleh bagian-bagian dalam keseluruhan itu.

Selain tepat, penyimpulan juga harus bersifat pasti. Dengan metode praktis penyimpulan, jika dilukiskan dalam diagram himpunan dari hanya satu bentuk. Sebaliknya, jika dilukiskan dalam diagram himpunan dari lebih satu bentuk, maka tidak pasti.


SILOGISME BERATURAN

Silogisme beraturan adalah bentuk penyimpulan yang terdiri dari tiga proposisi: proposisi kesimpulan, proposisi premis mayor, dan proposisi premis minor, (serta term tengah).

Ada 4 bentuk silogisme beraturan:

  • Silogisme Sub-Pre
  • Silogisme Bis-Sub
  • Silogisme Bis-Pre
  • Silogisme Pre-Sub


Silogisme Sub-Pre

Yaitu bentuk silogisme, di mana term tengah sebagai term subyek dalam premis mayor, dan sebagai term predikat dalam premis minor.
Dalam 7 hukum dasar penyimpulan, ada 13 macam silogisme Sub-Pre yang berkesimpulan pasti.
Misalnya,
*Premis mayor        : Korupsi adalah kejahatan extraordinari bagi rakyat Indonesia.
*Premis minor         : Salah satu anggota DPR melakukan tindak korupsi.
*Kesimpulan           : Salah satu anggota DPR adalah penjahat extraordinari bagi rakyat Indonesia.

Silogisme Bis-Pre

Yaitu bentuk silogisme, di mana term tengah sebagai term predikat dalam premis mayor dan minor.
Dalam 7 hukum dasar penyimpulan, ada 13 macam silogisme Bis-Pre yang berkesimpulan pasti.

Silogisme Bis-Sub

Yaitu: Bentuk silogisme, di mana term tengah sebagai term subyek dalam premis mayor dan minor.
Dalam 7 hukum dasar penyimpulan, ada 13 macam silogisme Bis-Sub yang berkesimpulan pasti.

Silogisme Pre-Sub

Yaitu bentuk silogisme, di mana term tengah sebagai term predikat dalam premis mayor, dan sebagai term subyek dalam premis minor. Dalam 7 hukum dasar penyimpulan, ada 13 macam silogisme Pre-Sub yang berkesimpulan pasti.

SILOGISME TIDAK BERATURAN

Silogisme tidak beraturan adalah bentuk penyimpulan, dengan 4 (empat) macam:

  • Entimema
  • Epikirema
  • Sorites
  • Poli-silogisme


Entimema

Yaitu bentuk silogisme di mana satu proposisi dihilangkan, karena dianggap sudah diketahui. Ada 4 macam bentuk kemungkinan:

  • Entimema dari silogisme, di mana premis mayor dihilangkan.
  • Entimema dari silogisme, di mana premis minor dihilangkan.
  • Entimema dari silogisme, di mana kesimpulan dihilangkan, karena langsung sudah diketahui.
  • Entimema dari silogisme, di mana premis mayor dan minor dihilangkan, karena dianggap sudah diketahui.
Faedah praktis entimema, yaitu dengan mengembalikan entimema ke dalam bentuk asal, merupakan sebagai bukti kebenaran dan ketepatan susunan proposisinya.

Epikirema

Epikirema adalah bentuk silogisme di mana salah satu atau kedua premis (mayor dan minor) disertai dengan alasan. Terjadi di dalam buku-buku atau percakapan sehari-hari.

Sorites

Sorites adalah bentuk silogisme di mana premis berhubungan lebih dari dua proposisi, sehingga kesimpulan berbentuk hubungan antara premis mayor dan premis minor, tanpa term tengah.

Penyimpulan yang pasti dalam Sorites harus memenuhi beberapa syarat:

  • Jika dalam hubungan itu universal ke partikular, maka hubungan selanjunya tidak boleh dibalik, meski sebagai term subyek atau term predikat.
  • Jika dalam hubungan itu partikular ke universal, maka hubungan selanjutnya tidak boleh dibalik, meski sebagai term subyek atau term predikat.
  • Jika dalam hubungan itu ada negasi, maka yang menegasi atau dinegasi harus universal, atas dasar prinsip penyimpulan yang ketujuh.
  • Jika dalam hubungan itu tiap proposisi premis (mayor dan minor) berbentuk ekuivalen, maka proposisi kesimpulan selanjutnya pun berbentuk ekuivalen, atas dasar prinsip penyimpulan yang pertama.

Atas dasar kuantitas itu, Sorites dibagi dua macam: sorites progresif dan sorites regresif

Sorites progresif adalah sorites dari partikular ke universal, kesimpulannya hubungan antara term subyek dari premis mayor dengan term predikat dari premis minor; sedangkan sorites regresif adalah dari universal ke partikular, kesimpulannya hubungan antara term subyek dari premis minor dengan term predikat dari premis mayor.

Faedah praktis Sorites tampak pada penggabungkan bentuk-bentuk silogisme. Faedahnya adalah Sorites banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, untuk mempengaruhi orang lain, dan untuk memberikan maklumat (perintah atau larangan).  

Poli-silogisme

Poli-silogisme adalah bentuk silogisme, di mana hubungan pada kesimpulan sebelumnya menjadi premis pada silogisme berikutnya. Ada dua (2) jenis poli-silogisme: Pro-silogisme (silogisme yang bukan bagian akhir); dan Epi-silogisme (silogisme yang bagian akhir).

Tiap silogisme hingga silogisme akhir bisa memiliki penyimpulan yang tepat dan pasti, jika mengikuti hukum dasar penyimpulan dan berbentuk hanya satu diagram himpunannya.

Dengan demikian, sSilogisme merupakan salah satu bentuk penyimpulan yang sah (tepat), jika mengikuti prinsip-prinsip penyimpulan sebagai hukum dasar penyimpulan. Selain itu, penyimpulannya menjadi pasti, jika diagram himpunan berbentuk hanya satu saja.



Sumber bacaan:
Noor Muhsin Bakri dan Sonjoruri Budiani Trisakti. Logika. Ed. V. Jakarta: Universitas Terbuka, 2012, hal. 6.1-6.56.



[ILMU LOGIKA] Proposisi Kategoris: Unsur Dasar Proposisi, Empat Macam Proposisi dan Negasi Proposisi Kategoris

[ILMU LOGIKA] Proposisi Kategoris: Unsur Dasar Proposisi, Empat Macam Proposisi dan Negasi Proposisi Kategoris

APA YANG DIMAKSUD PROPOSISI DALAM ILMU LOGIKA?

Tepat, Inisiasi 4 merupakan penjabaran dari term. Ingat, Term mengungkapkan konsep atau pengertian sebuah kata. Ada term konotatif dan term denotatif. Pada inisiasi kali ini term denotatif dijabarkan atas dasar pada "luas pengertian" dari kata. Sebab itu, term berkaitan dengan "himpunan". Term di dalam ilmu logika berkaitan dengan "Proposisi" dan "Penyimpulan"

kumpulan kata | credit: www.freepik.com


Proposisi adalah suatu kalimat yang memiliki sifat khas, yakni dapat dinilai benar atau salah. Penyimpulan adalah proses penarikan sebuah proposisi (kesimpulan) dari satu atau dua proposisi (premis) lainnya.

Proposisi dibagi menjadi tiga (Bakry: 2012: 1.23), yaitu:
  • Proposisi Tunggal
    Proposisi tunggal terdiri dari sebuah pengertian.
  • Proposisi Kategoris
    Proposisi kategoris terdiri dari dua buah pengertian, yakni: subyek dan predikat.
  • Proposisi Majemuk
    Proposisi majemuk terdiri dari dua buah proposisi, yakni: proposisi khusus dan proposisi umum. 

Namun fokus pada inisiasi atau pembahasan kali ini adalah proposisi kategoris yang dijelaskan dengan tiga pemahaman, yaitu:
  1. Unsur Dasar Proposisi
  2. Empat Macam Proposisi
  3. Negasi Proposisi Kategoris 

UNSUR DASAR PROPOSISI DALAM LOGIKA


Dengan memahami arti proposisi, proposisi kategoris dijelaskan "jika term predikat diakui atau diingkari tentang term subyek secara mutlak atau tanpa syarat". Sebab itu, proposisi kategoris selalu berbentuk kalimat berita atau kalimat deklaratif. Ada 4 unsur dasar proposisi di dalam Proposisi kategoris:
  1. Term subyek (S) sebagai subyek dalam proposisi
  2. Term predikat (P) sebagai predikat dalam proposisi
  3. Kopula sebagai petunjuk kualitas proposisi (mengakui/ afirmatif atau mengingkari/ negatif).
  4. Kuantor sebagai petunjuk kuantitas proposisi (universal, singular, atau partikular).

Contoh nyatanya adalah kalimat berikut:
Seorang (Kuantor singular) Lionel Messi (S) adalah striker Barcelona (Kopula mengakui) menorehkan (P) gol terbanyak di Liga Spanyol.

Proposisi itu sama dengan “Lionel Messi menorehkan gol terbanyak di Liga Spanyol” atau “Lionel Messi tidak (Kopula mengingkari) menorehkan gol terbanyak di Liga Spanyol”.

EMPAT MACAM PROPOSISI DALAM ILMU LOGIKA

Atas dasar kuantitas proposisi di dalam proposisi kategoris, ada tiga jenis proposisi:
  1. Proposisi singular adalah pernyataan yang luas term subyeknya singular (sebuah atau tertentu)
  2. Proposisi particular adalah pernyataan yang luas term subyeknya particular (sebagian atau beberapa)
  3. Proposisi universal adalah pernyataan yang luas term subyeknya universal (semua).
Sementara atas dasar kualitas proposisi di dalam proposisi kategoris, ada 2 proposisi:
  1. Proposisi afirmatif
    Pernyataan yang term predikatnya diakui tentang term subyek
  2. Proposisi negatif
    Pernyataan yang term predikatnya diingkari tentang term subyek

Secara teoritik, ada 6 macam proposisi kategoris, tapi menjadi 4 macam proposisi kategoris. Sebab, arti sifat proposisi singular lebih memiliki persamaan dengan proposisi universal dari pada proposisi partikular.

Misalnya, "Seorang Agung adalah mahasiswa Tuton logika"; atau "Seorang Agung bukan mahasiswa Tuton logika".

Seorang (bukan sebagian) term subyek yang bersangkutan. Karena itu, disepakati oleh para ahli logika, ada 4 macam proposisi kategoris dengan lambang A, E, I dan O, yaitu:

  1. Proposisi kategoris"universal afirmatif" (A)
    Adalah pernyataan umum yang mengakui adanya hubungan term subyek dan term predikat. Proposisi A terbagi menjadi dua yakni: proposisi universal afirmatif ekuivalen dan universal afirmatif implikatif.

    Proposisi Universal Afirmatif Ekuivalen" (yang mengakui persamaan antara term subyek dan term predikat) dan Proposisi Universal Afirmatif Implikatif (yang mengakui semua term subyek adalah bagian dari term predikat).
  2. Proposisi Kategoris Universal Negatif (E) adalah pernyataan umum yang mengingkari adanya hubungan term subyek dan term predikat. Proposisi E hanya terdiri dari Proposisi Universal Negative Eksklusif, yang mengingkari tidak ada hubungan antara term subyek dan term predikat.
  3. Proposisi Kategoris Partikular Afirmatif (I) adalah pernyataan khusus yang mengakui adanya hubungan term subyek dan term predikat. Proposisi I terbagi menjadi dua yakni proposisi particular afirmatif inklusif dan proposisi particular afirmatif implikasi.

    Proposisi Particular Afirmatif Inklusif adalah proposisi kategoris partikular afirmatif yang mengakui sebagian term subyek adalah bagian dari term predikat. Sementara Proposisi Particular Afirmatif Implikasi yang mengakui sebagian term subyek adalah term predikat.
  4. Proposisi Kategoris Particular Negatif" (O) adalah pernyataan khusus yang mengingkari adanya hubungan term subyek dan term predikat. Proposisi O terbagi menjadi dua bagian yakni proposisi particular negatif inklusif dan proposisi particular negatif implikasi.

    Proposisi Particular Negative Inklusif adalah proposisi kategoris particular negatif, yang mengingkari sebagian term subyek bukan adalah bagian dari term predikat. Sementara Proposisi Particular Negative Implikasi adalah jenis proposisi yang mengingkari sebagian term subyek bukan adalah term predikat. 4 macam proposisi dapat dijelaskan lewat diagram himpunan.


7 MACAM NEGASI PROPOSISI KATEGORIS DALAM ILMU LOGIKA


Dari  4 (empat) macam proposisi di atas, terbentuk 7 macam proposisi negasi proposisi kategoris, yaitu:
  1. Proposisi Negasi Universal Afirmatif Ekuivalen
    Adalah pernyataan ingkaran umum mengakui persamaan term subyek dan term predikat.
  2. Propoisi Negasi Universal Afirmatif Implikasi
    Adalah pernyataan ingkaran umum mengakui semua term subyek adalah bagian dari term predikat.
  3. Proposisi Negasi Universal Negative Eksklusif
    Adalah pernyataan ingkaran umum mengingkari adanya hubungan term subyek dan term predikat.
  4. Proposisi Negasi Particular Afirmatif Inklusif
    Adalah pernyataan ingkaran khusus mengakui sebagian term subyek adalah bagian dari term predikat.
  5. Proposisi Negasi Particular Afirmatif Implikasi
    Adalah pernyataan ingkaran khusus mengakui sebagian term subyek adalah term predikat.
  6. Proposisi Negasi Particular Negatif Inklusif
    Adalah pernyataan ingkaran khusus mengingkari sebagian term subyek bukan adalah bagian dari term predikat.
  7. Proposisi Negasi Partikula Negatif Implikasi
    Adalah pernyataan ingkaran khusus mengingkari sebagian term subyek bukan adalah term predikat. Negasi proposisi kategoris pun bisa dijelaskan dengan diagram himpunan. 

Demikian proposisi kategoris yang merupakan penjabaran dari term denotatif, sehingga Konsep menjadi sebuah penalaran yang logis.



Sumber bacaan:

Noor Muhsin Bakri dan Sonjoruri Budiani Trisakti. Logika. Ed. II. Jakarta: Universitas Terbuka, 2012, hal. 4.1-4.43.




[MODUL 3 PENGANTAR LOGIKA] Materi Analisis/Pembagian, Klasifikasi/Penggolongan dan Defini/Penjelasan Dalam Pengantar Ilmu Logika Universitas Terbuka

[MODUL 3 PENGANTAR LOGIKA] Materi Analisis/Pembagian, Klasifikasi/Penggolongan dan Defini/Penjelasan Dalam Pengantar Ilmu Logika Universitas Terbuka

PENGANTAR MATERI ANALISIS, KLASIFIKASI DAN DEFINISI

Sebagai lanjutan dari pembahasan dasar-dasar penalaran logis, di dalam Inisiasi 3 ini, materi yang dibahas adalah analisis dan definisi. Materi ini mengaji tentang: analisis atau pembagian, klasifikasi atau penggolongan dan definisi atau penjelasan

pikiran manusia | credit: www.freepik.com

PENGERTIAN DAN CONTOH-CONTOH ANALISIS ATAU PEMBAGIAN DALAM LOGIKA


Tentunya, Anda semua mengingat apa itu konsep yang bersifat universal. Dengan keuniversalan sebuah konsep, seseorang membutuhkan Analisis. Analisis merupakan "penguraian secara jelas dan berbeda (clearly and distinctly) dari keseluruhan ke bagian-bagian" (Bakry, 2012: 3.3). Dalam praktiknya, ada dua macam jenis analisis, yakni analisis logis dan analisis realis. 

Analisis logis didasarkan pada prinsip tertentu, yang terbagi menjadi dua yaitu analisis universal dan analisis dikotomi.

Analisis universal dilakukan atas dasar prinsip pembagian dari genus ke spesies atau prinsip deduktif (dari umum ke khusus) untuk konsep yang sederhana.

Analisis dikotomi dilakukan atas dasar prinsip eksklusi tertii (hanya ada term positif dan term negatif) pada konsep yang sederhana atau kompleks. Analisis dikotomi yang dilakukan pada prinsip pembagian genus ke spesies menghasilkan analisis yang sederhana, lengkap, tegas dan pasti, yang disebut Sistem Analisis.

Contoh-contohnya adalah:
Analisis universal : Indonesia terdiri dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua.
Analisis dikotomi : Perilaku manusia terdiri dari baik dan buruk.

Analisis realis didasarkan pada sifat perwujudannya, yang terbagi menjadi dua yaitu analisis esensial dan analisis aksidental. Analisis esensial dilakukan dengan bagian dasar yang mewujudkannya. Analisis aksidental dilakukan atas dasar sifat-sifat yang menyertai wujudnya. 

Contoh:
Analisis esensial : Air terdiri dari unsur hydrogen dan oksigen
Analisis aksidental : Mobil dibagi berdasakan merk, yaitu Toyota, Honda, dan Audi.

Dari praksis Analisis, tampak bahwa Analisis dilakukan atas aturan-aturan tertentu yang disebut Hukum Analisis, yaitu:
  1. Analisis harus dilakukan menurut asas tunggal atau prinsip yang sama.
  2. Analisis harus lengkap dan tuntas
  3. Analisis harus jelas terpisah antar-bagiannya
  4. Analisis bersifat rasional dan deduktif.

DEFINISI KLASIFIKASI ATAU PENGGOLONGAN DAN PENJABARANNYA DALAM LOGIKA


Ketika seseorang berlogika, Analisis merupakan penguraian, sedangkan Klasifikasi merupakan "pengelompokan sistematis bagian-bagian yang terpisah atas dasar sifat, hubungan dan peranannya ke dalam keseluruhan" (Bakry, 2012: 3.16). Klasifikasi bersifat empiris dan induktif, yang tampak pada macam-macamnya, yaitu:

  1. Klasifikasi kodrati, ditentukan oleh susunan kodrati
  2. Klasifikasi buatan, ditentukan oleh sesuatu maksud yang praktis
  3. Klasifikasi diagnostik, ditentukan oleh gabungan yang tidak sepenuhnya kodrati dan tidak sepenuhnya buatan
Klasifikasi dilakukan harus atas dasar hukum-hukum Analisis, seperti di atas. 
Selain itu, "Sistem Klasifikasi" dilakukan atas dasar Term predikabel, yaitu: genus (jenis), spesies (golongan), diferensia (sifat pembeda), proprium (sifat khusus) dan aksiden (sifat kebetulan). 

Sistem klasifikasi ditemukan oleh Porphyrios, yang dikenal "Pohon Porphyrios". 
Di dalam genus, ada 3 tingkatan: summa genus (genus tertinggi), subaltern genera (genus perantara), dan proximum genus (genus terbawah). 

Pohon Porphyrios
Substansi : Ada yang fana

Tubuh : Berwujud dan tidak berwujud
Organisme : Bernyawa dan tidak bernyawa

Hewan : Berindra dan tidak berindra
Manusia : Berakal dan tidak berakal

Di dalam spesies, ada 3 tingkatan: spesies tertinggi, spesies perantara dan spesies terbawah.

Diferensia dibagi 2: diferensia generik dan diferensia spesifik
Contoh
Diferensia generik: Substansi material, tubuh berjiwa, organisme berperasa.
Diferensia spesifik: Hewan berakal budai dan hewan menyalak.

Proprium dibagi 2: proprium generik dan proprium spesifik
Contoh
Proprium generik: Sifat dapat mati pada organisme (benda hidup)
Proprium spesifik: Sifat berpolitik pada manusia karena berakal budi

Aksiden dibagi 2 macam: aksiden predikamental dan aksiden predikabel
Contoh
Aksiden prekamental: Sifat (cara berada) terpelajar pada manusia
Aksiden predikabel: Sifat (tidak mutlak) berambut pirang pada manusia

Dengan bahasan Analisis dan Klasifikasi tersebut, jelas bahwa keduanya merupakan pembagian atau penggolongan logis, bukan fisik, karena apabila keseluruhan dibagi-bagi maka bagian-bagiannya tetap mempunyai hubungan dengan keseluruhan.

Misalnya, jika komputer dilepas-lepas ke bagian-bagiannya: hard disk, DVD room, motherboard, monitor, mouse, dan keyboard, maka tidak bisa dikatakan bahwa hard disk adalah komputer atau keyboard adalah komputer.

PENGERTIAN ISTILAH DEFINISI (PENJELASAN) DAN PENTINGNYA DALAM BERLOGIKA

kata dan logika | credit: www.freepik.com

Setelah bisa mengungkapkan Konsep dengan Analisis dan Klasifikasi, seseorang harus mampu mendefinisikannya. Definisi merupakan "penentuan batas Konsep atau Pengertian secara singkat, tepat, jelas, padat dan lengkap, sehingga diperoleh rumusan Term yang jelas dan berbeda (clear and distinct)" atau "pernyataan yang berisi penjelasan tentang pengertian suatu term" (Bakry, 2012: 3.34). Sebab itu, definisi terdiri dari dua bagian yakni definiendum atau term yang dijelaskan dan definiens (pernyataan yang menjelaskannya). 


3 MACAM JENIS DEFINISI : DEFINISI NOMINAL, DEFINISI REALIS DAN DEFINISI PRAKTIS


Definisi Nominal
"Definisi nominal" dirumuskan atas dasar kata-kata, yang terbagi 6 macam: Definisi sinonim (persamaan kata), Definisi simbolik (persamaan kata berbentuk simbol), Definisi etimologi (asal usul kata), Definisi semantik (arti yang terkenal), Definisi stipulatif (kesepakatan bersama), dan Definisi denotatif (menunjukkan).

Definisi denotatif dibagi 2 lagi: Definisi denotatif ostensif (menunjuk langsung) dan Definisi denotatif enumeratif (menunjuk secara terperinci dan lengkap).

Contoh
Definisi sinonim : Pohon adalah batang hidup.
Definisi simbolik : Jika p maka q, didefinisikan non (p dan non q)
Etimologis :  Logika, berasal dari logos, berarti ilmu tentang uraian pikiran.
Semantik : (=) adalah sama dengan
Stipulatif : Nama bunga, kamboja, melati dan mawar. 
Denotatif ostensif : Mengambil batu kerikil, lalu mendefiniskan “inilah batu kerikil”.
Denotatif enumeratif : Propinsi di Indonesia adalah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan seterusnya sampai Papua. 

Definisi Realis
"Definisi realis" dirumuskan atas dasar realitas (sesungguhnya), yang terbagi 2 macam: Definisi esensial (hakikat atau esensi dari realitas), Definisi Esensial terdiri atas Definisi Analitik (esensial fisik) dan Definisi Konotatif (esensial metafisik); 

Sementara itu Definisi deskriptif (sifat yang melekat pada realitas), yang dibedakan menjadi: Definisi aksidental (sifat khusus dari realitas) dan Definisi Kausal (sebab realitas terjadi) atau Definisi Genetik. 

Contoh 
Definisi esensial analitik : Manusia adalah jiwa dan raga.
Definisi esensial konotatif : Manusia adalah orang yang memiliki bahasa dan berpikir.
Definisi deskriptif aksidental: Manusia adalah hewan berakal
Definisi deskriptif kausal : Manusia adalah orang yang dilahirkan dari rahim perempuan.

Definisi Praktis
"Definisi Praktis" dirumuskan atas dasar kegunaan atau tujuan terdiri atas definisi operasional, definisi fungsional dan definisi persuasif.

Definisi operasional adalah definisi yang menegaskan langkah-langkah tujuan dicapai dan dapat dibedakan menjadi 2: operasional kualitatif (isi dan kekuatan), dan operasional kuantitatif (banyak atau jumlah). sementara definisi fungsional adalah definisi yang menunjukkan kegunaan atau tujuannya;  dan definisi persuasif merupakan definisi yang digunakan untuk memengaruhi orang lain.

Contoh

  • Definisi operasional kualitatif : Magnet adalah logam yang dapat menarik gugusan besi.  
  • Definisi operasional kuantitatif: Panjang adalah jumlah x ukuran standar menenuhi jarak.
  • Definisi fungsional : Logika adalah teori tentang penyimpulan yang sah.
  • Definisi persuasif : Sosialisme adalah demokrasi sosial ekonomi.

HUKUM-HUKUM DEFINISI

Definisi yang dilakukan harus didasarkan pada syarat-syarat atau hukum Definisi, yaitu: 
  1. Definisi harus menyatakan ciri-ciri hakikat.
  2. Definisi harus setara antara definiendum dan definiens.
  3. Definis harus menghindari definiendum masuk ke dalam definiens.
  4. Definisi harus dirumuskan secara afirmatif (positif), tidak boleh negatif.
  5. Definisi harus dinyatakan secara singkat dan jelas, bukan rumusan kabur. 

Dengan demikian, definisi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang ilmiah. Definisi harus mampu memerlihatkan perbedaan antara konsep yang dijelaskan dengan konsep yang lainnya, sehingga jelas batas ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Inilah penjelasan dari Analisis, Klasifikasi dan Definisi untuk mengungkapkan Konsep secara logis.




Sumber bacaan: 
Noor Muhsin Bakri dan Sonjoruri Budiani Trisakti. Logika. Ed. II. Jakarta: Universitas Terbuka, 2012, hal. 3.1-3.47.


Hubungan Sederhana Antara Ide, Konsep dan Term Dengan Prinsip Penalaran Dalam Ilmu Logika

Hubungan Sederhana Antara Ide, Konsep dan Term Dengan Prinsip Penalaran Dalam Ilmu Logika

Jelaskan Hubungan Ide, Konsep dan Term Dengan Prinsip Penalaran?

Dalam modul 2 Pengantar Logika akan dibahas mengenai prinsip-prinsip penalaran yang didalamnya terdapat istilah ide, gagasan, konsep, term dan sesat pikir. Tentu ada hubungan atau link yang melingkup keterkaitan elemen-elemen tersebut dalam sebuah prinsip penalaran. Sebelum membahas mengenai hubungan antara ide, konsep dan term dengan prinsip penalaran, kita harus tahu apa yang dimaksud dengan ide, konsep, term dan prinsip penalaran tersebut.

ilustrasi mengenai hubungan | credit: www.freepik.com


Menurut pemahaman saya, ide adalah fenomena mental berupa penyimpulan murni pengejawantah pikiran tanpa tercampur adanya suatu sebab-alasan sebelumnya, ide adalah bentuk pikiran itu sendiri.

Sementara konsep dapat diartikan sebagai ungkapan pikiran atau produk pemikiran hasil daya tangkap otak manusia terhadap suatu hal baik yang berbentuk materi maupun nonmateri, nyata atau tidak nyata. Konsep sedikit banyak beroleh pengaruh dari faktor eksternal.

Term adalah kata, atau hasil pengungkapan konsep secara lahiriah berupa kata dan atau kumpulan kata yang dapat dan bisa ditangkap oleh pikiran-pikiran pribadi lain.

Prinsip penalaran adalah kaidah-kaidah (hukum) paling dasar pada logika yang harus dipatuhi dan diakui sebagai legitimasi dan komitmen berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang pada akhirnya menghasilkan sejumlah konsep-konsep dan pengertian.

Hubungan struktural paling sederhana antara ide, konsep, dan term dengan prinsip penalaran: Logika berfondasikan silogisme, silogisme terbentuk dari proposisi-proposisi, sementara proposisi merupakan gabungan term. Dan seperti yang kita tahu, term merupakan kata atau gabungan kata berupa output atau hasil pemikiran-pemikiran yang bermula dari adanya konsep berpikir dimana ide adalah inti dari pemikiran tersebut.

Butuh Ringkasan Materi? Klik [PDF] Download Rangkuman Modul 1 ISIP4211: Pengantar Logika Universitas Terbuka


Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan ide, konsep dan term dengan prinsip penalaran adalah bahwa ide memunculkan suatu gagasan atau konsep berpikir yang rancangan-rancangannya dibahasakan menggunakan term (kata) dimana kata-kata ini haruslah mempunyai suatu pedoman berupa kaidah-kaidah (hukum) mendasar sebagai prinsip penalaran yang mengandung kebenaran universal.

Sebutkan dan Jelaskan Prinsip Penalaran yang Dapat Membuat Sesat Pikir?


Ada dua kategori sederhana mengenai sesat pikir yakni kesesatan pikir formal dan sesat pikir material

Sesat pikir formal adalah kesesatan yang dilakukan karena penalaran yang tidak tepat dan terjadi pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika mengenai term dan preposisi

Contoh:
semua batu adalah benda mati
semua batu adalah bersifat padat
semua yang bersifat padat adalah benda mati

Sesat pikir material adalah kesesatan yang menyangkut isi (materi) penalaran yang dapat terjadi karena faktor bahasa sehingga keliru dalam menarik simpulan.

Contoh: 
semua yang mendukung sistem komunisme adalah manusia tidak bertuhan
semua manusia tidak bertuhan adalah pendukung sistem komunisme

padahal ada manusia liberal kapitalis yang tidak bertuhan


Sumber:
Modul Pengantar Logika
https://ragil.org/2015/05/09/fallacy-atau-sesat-pikir-dalam-logika/

[DASAR-DASAR PENALARAN LOGIS – PENGANTAR LOGIKA] Ide, Gagasan, Konsep, Term dan Hubungannya Dengan Prinsip Penalaran  Serta Perihal Sesat Pikir

[DASAR-DASAR PENALARAN LOGIS – PENGANTAR LOGIKA] Ide, Gagasan, Konsep, Term dan Hubungannya Dengan Prinsip Penalaran Serta Perihal Sesat Pikir

HUBUNGAN IDE, KONSEP DAN TERM DENGAN PENALARAN LOGIS

Dalam melakukan proses kerja penalaran logis, dikenal adanya ide, gagasan, konsep dan term. Tiga elemen utama logika ini selalu berhubungan dengan prinsip penalaran untuk menghindari silogisme atau sesat pikir.


logika adalah bagian dari ilmu filosofi | credit: www.freepik.com

PENGERTIAN IDE ATAU GAGASAN


Ide atau gagasan seringkali dipersepsikan sama dengan konsep. Padahal, secara etimologis keduanya memiliki perbedaan arti dan definisi, walau kenyataannya di dalam modul Pengantar Logika disebutkan bahwa ide dan konsep dalam logika adalah sama artinya.

Rene Descartes mengatakan bahwa "ide adalah model pikiran" (Ensiklopedia Filsafat Stanford). Ide dipahami sebagai cara yang dianggap (atau contoh dari pikiran atau manifestasi pikiran). Jika dijelaskan bahwa esensi atau sifat pikiran adalah berpikir, maka ide adalah cara berpikir yang mewakili obyek untuk pikiran.

Menurut Descartes ada tiga jenis pembagian ide. Pembagian ini menjelaskan adanya hubungan Tuhan, manusia dan alam semesta yakni:
  • Ide bawaan atau innate idea
    Ide bawaan (bersifat tidak terbatas) adalah gagasan Tuhan
  • Ide adventif atau adventitious idea
    Ide adventif atau ide yang terbatas pada pikiran adalah gagasan manusia itu sendiri. Ide adventif tergantung pada ide bawaan. Ide adventif adalah apa yang direnungkan oleh pikiran manusia
  • Ide tiruan atau factitious idea
    Ide tiruan adalah gagasan (terbatas pada tubuh) adalah alam semesta. Ide tiruan adalah ide independen, hal-hal yang ada eksternal dari pikiran. Oleh karena itu, ide sebagai obyek perwakilan dari pikiran. Tentunya, sebagai model atau bentuk pikiran, ide memunculkan konsep.  


Contoh 
Ide bawaan         : Keadilan
Ide tiruan            : Kebebasan manusia
Ide adventif       : Integrasi sosial di negara Indonesia


DEFINISI KONSEP DAN TERM DALAM ILMU LOGIKA


Definisi konsep atau pengertian adalah hasil tangkapan akal manusia mengenai sesuatu obyek, baik material maupun non-material (Bakry, 2012: 2.3). Menurut Hayon (2001:29) konsep dapat diartikan sebagai hasil kegiatan akal budi (pikiran) manusia. Hasil pikiran manusia berupa "gambaran" atau "lukisan" yang bersifat abstrak dan umum, tidak menunjuk kepada obyek dalam waktu, tempat dan ciri-ciri tertentu.

Misal, konsep kucing yang hakikatnya bersifat abstrak dan umum, bukan hanya kucing di toko, di rumah, atau di restoran. Karena itu, konsep atau pengertian secara terminologis adalah "gambaran abstrak dan umum yang dibentuk dan dimiliki oleh pikiran tentang hakikat obyek" (Hayon: 30). Maka, dapat dipahami perbedaan antara ide dan konsep. Jika konsep merupakan hasil pikiran, maka ide adalah bentuk pikiran.

Contoh Konsep: 
“Kebebasan dapat ditemukan dengan mewujudkan keadilan.”
(Lihat paper di https://multikulturalui.files.wordpress.com/2013/05/prosiding-simg-ui-2012-jilid-2-04.pdf)

Untuk mengungkapkan konsep itu secara lahiriah disebut "term". Term terdiri dari "kata". Jika suatu term terbentuk dari satu kata maka term tersebut dikatakan sebagai term sederhana. Namun jika suatu term terdiri dari beberapa kumpulan kata maka disebut sebagai term kompleks. Contohnya, baju (term sederhana) dan kampus terpadu (term kompleks).

Contoh: 
Term sederhana : Kebebasan
Term kompleks : Integrasi sosial 


MACAM-MACAM JENIS TERM DALAM PENALARAN LOGIS


Seperti halnya kata, term dibagi menjadi dua yakni konotasi dan denotasi. Ini berdasarkan pengertiannya terhadap kata-kata tersebut. Konotasi merujuk pada makna tersirat dari suatu term (kata), sementara denotasi bermaksud sebagai kata tidak bermakna atau kata yang artinya sebagaimana penulisan term tersebut.

Contohnya: konotasi menjelaskan tentang "isi pengertian" dari kata. Misalnya, kutu buku adalah orang yang tekun membaca buku. Sedang, denotasi menjelaskan "luas pengertian" dari kata. Misalnya, kutu buku adalah binatang kutu yang berasal dan hidup berkembang di dalam buku.

Denotasi berkaitan dengan himpunan, sebab menunjukkan adanya satu kesatuan. Kutu buku adalah satu kesatuan kata yang memiliki pengertian. Hubungan term konotasi dan denotasi adalah berbanding terbalik, maksudnya jika yang satu bertambah maka yang lain akan berkurang.

Sebab itu, ada empat kemungkinan hubungan antara keduanya. Selain itu, berkaitan dengan cara berada dan cara menerangkannya, term dibedakan menjadi empat macam kemungkinan yaitu term berdasarkan konotasi, term berdasarkan denotasi, term berdasarkan predikamen dan term berdasarkan predikabel.

Contoh Empat Macam Kemungkinan Term
(1) term konotasi          : Musuh dalam selimut
(2) term denotasi          : Orang dekat yang berkhianat diam-diam
(3) term predikamen     : Adanya Tuhan; adanya manusia
(4) term predikabel       : Konflik agama

PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN PRINSIP PENALARAN


Pada pembahasan sebelumnya telah disinggung mengenai istilah penalaran. Setelag menguasai materi mengenai ide, konsep dan term sebagai dasar-dasar penalaran logis, maka logika dapat diartikan sebagai sistem penalaran tentang penyimpulan yang sah. Prinsip penalaran adalah kaidah-kaidah (hukum) paling dasar pada logika yang harus dipatuhi dan diakui sebagai legitimasi dan komitmen berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang pada akhirnya menghasilkan sejumlah konsep-konsep dan pengertian yang bersifat universal kebenarannya.

Aristoteles menyebukan ada tiga prinsip dasar penalaran dan ditambah oleh Leibniz satu prinsip lagi sehingga ada empat prinsip dasar penalaran. Keempat prinsip-prinsip penalaran tersebut adalah prinsip identitas, prinsip nonkontradiksi, prinsip eksklusi tertii dan prinsip cukup alasan.

Contoh 
(1) prinsip identitas         : Allah adalah Pencipta
(2) prinsip nonkontradiksi : Konflik disebabkan oleh tiada dialog di dalam perbedaan
(3) prinsip eksklusi tertii : Konflik agama, karena konflik antarumat beragama
(4) prinsip cukup alasan    : Allah adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seisinya.


DEFINISI SESAT PIKIR ATAU SILOGISME


Kekeliruan terhadap prinsip dasar penalaran di atas dikatakan SESAT PIKIR, yang menghasilkan “kesimpulan yang tidak sah.” Menurut Irving M. Copi, sesat pikir dibedakan menjadi dua: sesat pikir formal dan sesat pikir informal. Sesat pikir formal terbagi dua: sesat pikir pertalian dan sesat pikir ke-maknagandaan.  Lalu, para ahli logika mengembangkannya menjadi tiga macam: sesat pikir FORMAL, sesat pikir VERBAL, dan sesat pikir MATERIAL.

Sesat pikir formal disebabkan oleh kekeliruan penalaran terhadap bentuknya. Sesat pikir verbal disebabkan oleh kekeliruan penalaran terhadap kata-katanya (pertalian dengan penggunaan yang salah atau kemaknagandaan kata). Sesat pikir material disebabkan oleh kekeliruan penalaran terhadap isinya.

Contoh Sesat Pikir Formal

  • Kritis adalah reinterpretasi atas pandangan universalitas atau partikularitas
  • Ternyata reinterpretasi atas pandangan partikularitas,
  • Berarti, kritis.

Contoh Sesat Pikir Verbal

  • Hermeneutika kritis Habermas di Jerman
  • Musim es di Jerman
  • Maka, musim es adalah hermeneutika kritis Habermas

Contoh Sesat Pikir Material

Konflik agama di Indonesia dapat dijelaskan dan dipahami kembali dalam historisitas dan doktinitas Islam yang dihadirkan di bumi Indonesia. kemudian, menyimpulkan, semua konflik agama di Indonesia disebabkan politik dan ekonomi.


KESIMPULAN HUBUNGAN ANTAR IDE, KONSEP DAN TERM DENGAN PRINSIP PENALARAN


Diatas adalah pembahasan mengenai ide, konsep, term dan hubungannya dengan prinsip penalaran pada ilmu logika. Praksisnya tampak pada prinsip dasar dari logika sebagai sistem penalaran tentang penyimpulan yang sah. Lebih singkatnya, jika sudah keliru prinsip dasar penalarannya maka otomatis terjadi sesat pikir atau silogisme





Sumber bacaan:
http://plato.stanford.edu/entries/descartes-ideas/#thoughts 
Hayon, Y.P., Logika: Prinsip-prinsip Bernalar Tepat, Lurus dan Teratur. Cet. II. Jakarta: ISTN, 2001, h. 29-32.
Noor Muhsin Bakri dan Sonjoruri Budiani Trisakti. Logika. Ed. V. Jakarta: Universitas Terbuka, 2012, hal. 2.3-2.26 dan 2.32-2.40. 
https://multikulturalui.files.wordpress.com/2013/05/prosiding-simg-ui-2012-jilid-2-04.pdf