Showing posts with label Organisasi. Show all posts
Showing posts with label Organisasi. Show all posts

Manajemen SDM: Definisi, Contoh dan Perbedaan Metode Penilaian Kinerja Karyawan

TUGAS:

"Jelaskan perbedaan antara metode penilaian kinerja Ranking, Forced Distribution, dan Paired Comparation!"


Sebelum kita mengetahui perbedaan 3 metode penilaian kinerja, sejenak me-refresh apa yang dimaksud dengan penilaian kinerja. Secara sederhana, Werther & Davis (1996) mengemukakan pendapat bahwa “penilaian kinerja adalah proses yang dilakukan organisasi untuk mengevaluasi hasil kerja para karyawannya.”

Ada tiga metode penilaian yang secara luas dikenal yakni metode ranking, metode forced distributions (distribusi dipaksakan) dan paired comparation (perbandingan antar subyek). Perbedaan dati ketiga metode tersebut adalah:

1. Metode Ranking
2. Metode Forced Distribution
3. Metode Paired Comparation


METODE RANKING

Metode ini dilakukan dengan mengelompokkan seluruh karyawan dan mengurutkannya berdasarkan urutan nilai kinerja secara keseluruhan sehingga diperoleh data urutan karyawan dengan nilai tertinggi dan berkinerja paling baik sampai karyawan dengan nilai terendah atau kinerjanya paling kurang berkontribusi terhadap perusahaan.

Contohnya: secara berurutan diperoleh data bahwa karyawan A memiliki nilai tertinggi dari poin-poin penilaian kinerja yang dibuat dan karyawan Z memiliki nilai kerja yang paling kurang.

Kelemahan dari metode ini adalah ketika terdapat dua atau beberapa karyawan yang memiliki nilai sama atau sebanding.

Kelebihan dari penilaian kerja metode ranking ini sangat sederhana sehingga paling cocok digunakan untuk organisasi skala kecil dimana anggotanya tidak terlalu banyak dan poin-poin penilaiannya lebih beragam.


METODE FORCED DISTRIBUTION

Metode ini dilakukan dengan cara membagi anggota organisasi dalam sebuah kelompok kerja ke dalam sejumlah kategori terbatas. Metode ini lahir dari keterbatasan pada metode ranking, yakni munculnya nilai-nilai yang sama dan sebanding pada pemeringkatan metode ranking tersebut.

Pada metode ini, kategori-kategori penilaian yang ada dikelompokkan berdasarkan prosentase terhadap nilai keseluruhan penilaian kinerja sehingga memunculkan nilai akhir.

Contoh penerapan metode forced distribution, misalnya: penilaian kategori A, dianggap baik jika prosentasenya 5% terhadap nilai akhir, penilaian kategori B berpengaruh sebesar 20%, dst dst. Hasil prosentase penilaian tersebut kemudian ditambahkan hingga muncul nilai akhirnya.

Kelemahan dari metode ini adalah menimbulkan ketakutan dan rasa curiga terhadap sesama pekerja, kemudian bisa menghancurkan daya serap kontribusi para pekerja (retention) dan komitmen dalam bekerja karena metode ini melibatkan nilai keseluruhan pekerja dari pembagian kategori tersebut.

Kelebihannya adalah meningkatkan produktivitas kerja bagi perusahaan dimana setiap pekerja akan memiliki rasa segan untuk dikategorikan dalam nilai yang kurang baik. Seperti yang dilakukan oleh perusahaan raksasa, General Electric, dimana metode ini membantu mereka untuk menaikkan pendapatan hingga 2800% antara tahun 1981 dan 2001.


METODE PAIRED COMPARATION

Metode ini dilakukan dengan membandingkan satu anggota organisasi dengan satu rekan kerjanya. Cara ini dilakukan dengan menggunakan lembar penilaian pada setiap anggota organisasi yang akan dinilai berdasarkan kategori yang ada.

Contohnya: setiap anggota dipasangkan dan diperbandingkan, kemudian dari kategori yang ada, anggota yang dinilai memiliki kualitas dari kategori tersebut akan dicentang lembar penilaiannya, sementara pasangannya dikosongi. Sehingga di akhir penilaian, lembar anggota yang memiliki centang paling banyak adalah yang mendapat nilai terbaik.

Kelebihan metode ini yakni cocok digunakan untuk organisasi yang sangat kecil dan terbatas keanggotaannya. Mengingat rumusan untuk jumlah pemasangan setiap anggota adalah N (N -1 ) / 2, dimana N adalah jumlah karyawan.

Kelemahannya, penilaian cenderung menimbulkan rasa inferior dan kedengkian terhadap suatu anggota organisasi  karena dirasa ‘membandingkan’ dan menemukan ‘sosok terbaik’ diantara para pekerja, ditambah lingkup anggota organisasi sangat kecil, tentu kedepannya menimbulkan masalah horizontal diantara sesama pekerja.


Sumber:

  • http://dinus.ac.id/repository/docs/ajar/Penilaian-Kinerja-14.ppt
  • http://yani.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/63501/PERTEMUAN+9+PENILAIAN+KINERJA.pdf
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Job_evaluation
  • https://marketbusinessnews.com/financial-glossary/forced-distribution/


Telaah Hubungan Kerja Pemerintah Desa dengan Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten/Kotamadya

TUGAS DISKUSI:

Sejauh manakah hubungan kerja antara Pemerintah Desa dengan Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten/Kota? Dan apa fungsi kecamatan bagi pemeritahan desa? Diskusikan!

JAWABAN:

Hubungan kerja pada dasarnya adalah kegiatan kerja sama antara individu atau unit kerja dalam organisasi, maupun dengan di luar organisasi, atau antar organisasi. Menurut Ma’moeri (2000:10) hubungan kerja antara lain:

  • Hubungan Kerja Vertikal atau Hierarkis, berupa hubungan kerja antara pimpinan dan bawahan.
  • Hubungan Kerja Horizontal, berupa hubungan kerja antar pejabat pada tingkat atau eselon yang sama.
  • Hubungan Kerja Diagonal, berupa hubungan kerja antar pejabat yang berbeda induk unit kerjanya dan berbeda juga tingkat atau eselonnya.
  • Hubungan Kerja Fungsional, berupa hubungan kerja antara unit atau pejabat yang mempunyai bidang kerja yang sama.
  • Hubungan Kerja Informatif, berupa hubungan kerja antar unit atau pejabat dengan tingkat atau bidang apapun untuk saling memberikan dan memperoleh keterangan.
  • Hubungan Kerja Konsultatif, berupa hubungan kerja antar pejabat yang karena jabatannya berkepentingan melakukan konsultasi antar satu dengan lainnya.
  • Hubungan Kerja Direktif, berupa hubungan kerja antara pimpinan unit organisasi atau pejabat di yang satu pihak mempunyai wewenang dan kewajiban untuk memberikan bimbingan, pengarahan, pertimbangan, saran atau nasihat dalam bidang kerja hierarkis tertentu, sedang di pihak lain mempunyai kewajiban melaksanakan bimbingan, pengarahan dan pertimbangan, saran dan atau nasihat tersebut.
  • Hubungan Kerja Koordinatif, berupa hubungan kerja antar pejabat yang dimaksudkan untuk memadukan (mengintegrasikan), menyerasikan, dan menyelaraskan berbagai kepentingan dan kegiatan yang saling berkaitan beserta segenap gerak, langkah dan waktunya dalam rangka pencapaian sasaran dan tujuan bersama.

Berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 dan PP Nomor 72 Tahun 2005, khususnya pasal 15 ayat (2) PP Nomor 72 Tahun 2005, disebutkan bahwa : “Kepala Desa mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada bupati/walikota, memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD, serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat”.

Lantas, sejauh manakah hubungan kerja antara Pemerintah Desa dengan kecamatan dan pemerintah kabupaten/Kota menurut undang-undang tersebut?

Menurut UU No. 6 Tahun 2014, secara tersirat dapat disimpulkan bahwa hubungan pemerintah desa dengan kecamatan dan pemerintah kabupaten adalah hubungan kerja bersifat koordinatif. Ini artinya pemerintah desa hadir sebagai ‘penyokong’ dari kebijakan-kebijakan organisasi supra desa agar dapat dilaksanakan dengan baik. Untuk kemudian dilaporkan hasilnya ke pemerintah kabupaten/kota melalui camat. Dengan kata lain, pemerintah desa tidak memiliki kewajiban untuk mempertanggungjawabkan hasil kerja kepada kecamatan. Ini dipertegas lagi bahwa seorang kepala desa bertangungjawab kepada rakyat atau masyarakat melalui BPD.

Sedangkan pemerintah kabupaten/kota memiliki kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah desa atas tugas dan wewenang yang diberikan kepada kepala desa dan BPD. Ini dapat dilihat dari kutipan Pasal 115, bahwa pemerintah kabupaten/kota berwenang untuk “memberikan sanksi atas penyimpangan yang dilakukan oleh Kepala Desa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Ini dikarenakan pada BAB XIV mengenai Pembinaan dan Pengawasan, pemerintah kabupaten/kota memiliki kewenangan untuk membina dan mengawasi penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

Kebijakan seperti itu dilanjutkan pada UU Nomor 6 Tahun 2014 juncto PP Nomor 43 Tahun 2014. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa kepala desa tidak bertanggung jawab kepada bupati/walikota, tetapi hanya menyampaikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa yang bersifat informatif. Penegasan ini diperlukan karena diberbagai kabupaten/kota masih ditemui adanya peraturan daerahnya yang menyebutkan bahwa kepala desa berada di bawah dan bertanggung jawab kepada bupati/walikota.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa kepala desa hanya memberikan laporan pertanggungjawaban kepada BPD yang bersifat informatif. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kepala desa tidak bertanggung jawab kepada BPD, karena kedudukan keduanya sejajar dan merupakan mitra dalam menyelenggarakan pemerintahan desa.

Meskipun antara kepala desa dan BPD berkedudukan sejajar dan merupakan mitra, tetapi oleh peraturan perundang-undangan, pimpinan BPD berdasarkan keputusan musyawarah BPD diberi kewenangan untuk mengusulkan pemberhentian kepala desa sebelum masa jabatannya berakhir kepada bupati/walikota melalui camat. Usulan pemberhentiam tersebut apabila kepala desa tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan.

Pemerintahan desa paling banyak melaksanakan hubungan kerja dengan pemerintah daerah kabupaten/kota secara langsung maupun melalui perangkat daerah kabupaten/kota yang ada di kecamatan yang dimanifestasikan pada diri camat. Hubungan pemerintahan desa dengan pemerintah daerah kabupaten/kota sangat intensif mencakup beberapa aspek yakni :

  • Dalam aspek kebijakan, karena semua pengaturan tentang desa pada skala setempat diatur melalui peraturan daerah kabupaten/kota setempat;
  • Dalam aspek keuangan, karena sebagian sumber-sumber keuangan desa berasal dari dana yang dialokasikan pada APBD Kabupaten/Kota;
  • Dalam aspek kepegawaian, karena kepala desa dan perangkat desa diangkat berdasarkan keputusan bupati/walikota atau pejabat yang menerima delegasi darinya;
  • Dalam aspek pembinaan dan pengawasan, karena bupati/walikota memiliki kewajiban untuk membina dan mengawasi jalannya pemerintahan desa, baik secara langsung maupun dengan mendelegasikannya kepada camat sebagai perangkat daerah;
  • Dalam aspek pertanggungjawaban, karena kepala desa menyampaikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa (LPPDesa) kepada bupati/walikota melalui camat.

Apa fungsi Kecamatan bagi Pemeritahan Desa? Diskusikan!

Fungsi kecamatan terhadap pemerintahan desa seperti yang tertera pada UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa, tidak disinggung secara jelas kedudukan camat dalam hubungan koordinatif antara pemerintah desa dengan pemerintaha supra desa. Akan tetapi pada Pasal 112 disebutkan bahwa “Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat mendelegasikan pembinaan dan pengawasan kepada perangkat daerah.”

Pendelegasian yang dimaksud pada pasal tersebut, bisa diartikan sebagai lembaga terkait yakni kecamatan. Pemerintah kecamatan menjadi corong dalam pelaporan hasil kinerja pemerintah desa kepada pemerintah kabupaten/kota.

Wewenang pembinaan dan pengawasan ‘perangkat daerah’ atau camat, belum diatur jelas dalam UU, namun kita dapat melihat salah satu contoh dari Perda yang berlaku di Kabupaten Polewali, yakni Perda No 11 Tahun 2009 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kecamatan Dan Kelurahan Di Kabupaten Polewali Mandar. Perda tersebut merujuk pada beberapa UU yang pernah berlaku, dan secara eksplisit menyebutkan pada Pasal 4 bahwa Camat mempunyai tugas umum pemerintahan yang meliputi:

  • mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat;
  • mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum;
  • mengkoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan;
  • mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum;
  • mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan ditingkat kecamatan;
  • membina penyelenggaraan pemerintahan desa/kelurahan; dan
  • melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan desa/kelurahan.

Kemudian diperjelas pada Pasal 5, Kecamatan diberikan kewenangan-kewenangan yang meliputi:

  1. perizinan;
  2. rekomendasi;
  3. koordinasi;
  4. pembinaan;
  5. pengawasan;
  6. fasilitasi;
  7. penetapan;
  8. penyelenggaraan; dan
  9. kewenangan lain yang dilimpahkan.

Saya berpendapat bahwa kedudukan struktural kecamatan tidak diatur secara gamblang karena kedudukan desa-desa yang ada di Indonesia sangat beragam antara satu daerah dengan daerah lain. Seperti struktur nagari, banjar, kampuang dan berbagai desa adat lainnya. Sehingga pembahasan wewenang dan fungsi kerja kecamatan lebih banyak diatur dalam Perda yang berlaku di daerah tersebut.

Sumber:
Wasistiono, Sadu, dkk (2019). Administrasi Pemerintahan Desa. Edisi 3. Buku Materi Pokok ADPU4340. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.


Manajemen Administrasi Negara Indonesia: Perencanaan, Penganggaran, Koordinasi dan Pengawasan

Perencanaan dan Penganggaran dalam Manajemen Administrasi Negara

Dari berbagai pengertian mengenai arti perencanaan maka tujuan perencanaan pada dasarnya adalah agar tujuan yang tercapai tidak melenceng terlalu banyak dari yang apa yang diharapkan. Perencanaan mengandung pengertian sebagai suatu proses, keputusan dan fungsi manajemen. Perencanaan yang baik dalam suatu kegiatan pemerintahan adalah yang memperhatikan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik, yang mengakomodasikan dinamika perkembangan dan interaksi sosial politik masyarakat bangsa; didukung paradigma pembangunan yang tepat, konsep yang jernih dan analisis yang akurat dan komprehensif serta integratif.

Perencanaan adalah kegiatan yang cukup penting dalam suatu proses manajemen karena perencanaan sebagai suatu fungsi yang dalam urutan proses manajemen menempati posisi awal. Kesalahan yang fatal dalam melakukan suatu perencanaan dapat mengakibatkan inefisiensi dan inefektivitas dalam proses manajemen selanjutnya, yang akhirnya pencapaian tujuan menjadi tidak optimal. Suatu perencanaan dapat dikatakan baik dan efektif adalah apabila memenuhi ciri-ciri, antara lain mempunyai tujuan yang jelas, tidak rumit, mudah dianalisis, bersifat fleksibel, dapat dilaksanakan dengan kemampuan yang ada, realistis, serta mempunyai skala prioritas. Perencanaan yang baik dan efektif mempunyai tahapan-tahapan dalam pembuatannya, yaitu membuat perincian tujuan secara lengkap dan jelas, merumuskan kebijakan, melakukan analisis dan penetapan cara dan sarana, melakukan, menunjukkan pelaksana, dan menentukan sistem pengendaliannya.

Pada umumnya dan khususnya dalam pemerintahan, perencanaan dibedakan menjadi perencanaan jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Selain perencanaan berdasarkan waktu maka dapat pula dibedakan perencanaan berdasarkan materi yang dibedakan atas perencanaan kebijakan (policy planning) dan perencanaan program (program planning).

Beberapa aspek yang ditemui sewaktu membuat suatu perencanaan yang dapat menjadi hambatan antara lain adanya kejadian yang tidak dapat diramalkan sebelumnya, kekurangan informasi atau beberapa kebijakan yang diambil pemerintah belum mencapai tujuan seperti yang diharapkan.

Koordinasi dalam Administrasi Negara Indonesia

Koordinasi selalu diperlukan dalam organisasi yang besar dan kompleks, serta dalam kehidupan modern karena dalam berbagai kegiatan organisasi dalam rangka mencapai tujuan atau yang berlainan tujuan, selalu ada hal-hal yang saling berkaitan. Koordinasi diperlukan untuk menciptakan keserasian tujuan, pandangan dan tindakan-tindakan di antara unit-unit yang ada karena adanya spesialisasi tugas dan tanggung jawab suatu unit kerja yang berbeda dengan unit lainnya. Koordinasi sudah dimulai sejak dilakukannya perencanaan tindakan atau program sampai tahap pengawasan termasuk koordinasi sewaktu pelaksanaan kegiatan.

Pentingnya koordinasi dapat terlihat dalam usaha meningkatkan dan memperlancar pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan yang diselenggarakan oleh berbagai departemen/lembaga pemerintah lainnya. Selain itu, koordinasi sangat penting karena untuk mencapai tujuan organisasi yang terdiri dari berbagai unit akan selalu dihadapkan kepada kelemahan dan keterbatasan dalam berbagai bidang.

Fungsi koordinasi, seperti yang disampaikan oleh Ketua LAN (dalam Handayaningrat, 2002), antara lain sebagai salah satu fungsi manajemen, usaha untuk menjamin kelancaran mekanisme prosedur kerja dari berbagai komponen dalam organisasi, usaha mengarahkan dan menyatukan kegiatan dari satuan kerja organisasi, faktor dominan bagi kelangsungan hidup suatu organisasi, dan adanya spesialisasi dalam berbagai tugas dan keanekaragaman tugas menyebabkan usaha-usaha koordinasi semakin bertambah besar dan menjadi rumit.

Agar koordinasi dapat berjalan dengan efektif perlu memperhatikan faktor kejelasan penanggung jawab kegiatan, tujuan organisasi perlu memperhatikan tujuan satuan-satuan kerja, kejelasan wewenang, tanggung jawab dan tugas satuan-satuan kerja, koordinasi dalam penyusunan anggaran, dan menjaga hubungan baik antar institusi.

Beberapa hambatan yang sering dijumpai sewaktu melakukan koordinasi berikut ini.

  1. Kurangnya pemahaman mengenai pentingnya fungsi koordinasi.
  2. Kurangnya kemampuan dalam menjalankan koordinasi.
  3. Masing-masing pimpinan unit kerja memandang tugasnya sendiri sebagai tugas yang paling penting dibandingkan dengan tugas-tugas yang lainnya.
  4. Para pimpinan unit kurang menyadari bahwa koordinasi merupakan sebagian dari tugas dan tanggung jawabnya untuk mencapai tujuan organisasi secara lebih menyeluruh.
  5. Prosedur dan tata kerja dalam menjalankan pekerjaan kurang jelas dan berbelit-belit serta tidak diketahui oleh semua pihak yang bersangkutan dalam usaha kerja sama.

Pengawasan Dalam Administrasi Negara

Pengawasan dapat diartikan sebagai segenap kegiatan untuk meyakinkan dan menjamin bahwa pekerjaan-pekerjaan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, kebijakan-kebijakan yang telah digariskan dan perintah-perintah yang telah diberikan dalam rangka pelaksanaan rencana tersebut.

Pengawasan akan bermakna jika diikuti dengan tindakan serta langkah-langkah yang nyata dan tepat. Selain itu pengawasan akan memiliki makna serta dapat memainkan perannya dengan baik apabila telah dapat mencapai tujuan pengawasan.

Sedangkan hakikat pengawasan adalah untuk mencegah sedini mungkin terjadinya tindakan -tindakan yang negatif dalam organisasi, seperti penyimpangan, pemborosan, penyelewengan, hambatan, kesalahan, dan kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran serta pelaksanaan tugas-tugas organisasi.

Dalam praktiknya, pengawasan harus mengukur apa yang telah dicapai, menilai kegiatan pelaksanaan, dan melakukan tindakan perbaikan serta penyesuaian sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu, pada prinsipnya tujuan pengawasan sama atau identik dengan tujuan perencanaan.

Jenis pengawasan dapat dirinci menjadi Pengawasan Melekat - Sistem Pengendalian Internal (Waskat-SPI) dan Pengawasan Fungsional (Wasnal). Sedangkan jika dilihat dari segi waktu terjadinya maka pengawasan dapat dibedakan menjadi pengawasan preventif dan represif.

Pengawasan Fungsional (Wasnal) di bagi ke dalam pengawasan internal pemerintah dan pengawasan eksternal pemerintah. Kemudian, ada pengawasan Legislatif (Wasleg)/Pengawasan Politik (Waspol), pengawasan oleh Lembaga lainnya serta Pengawasan Masyarakat (Wasmas).

Pengawasan atau kontrol terkait erat dengan pengendalian dan pengaturan perilaku birokrasi, selain supervisi, pengaruh, dan manajemen. Sumber kewenangan untuk melakukan kontrol bisa berasal dari luar dan dari dalam birokrasi. Kontrol birokrasi merupakan suatu proses untuk menemukan penyimpangan dan melakukan tindakan koreksi atas penyimpangan tindakan yang ditemukan tadi.

Pemerintah mempunyai kewenangan dalam bidang pengawasan serta pemberian perizinan tertentu bagi mereka yang akan melakukan suatu kegiatan atau usaha. Dalam memberikan perizinan, pemerintah perlu mempertimbangkan dari berbagai segi misal aspek sosial, ekonomi atau keamanan.


Fungsi-Fungsi Akuntansi Biaya dan Peran Penting dalam Suatu Organisasi - Perusahaan Manufaktur

Pengenalan Akuntasi Biaya

Apa yang dimaksud dengan akuntanis biaya? Apa tujuan dari kegiatan akuntansi perusahaan? Apa peran dan fungsi-fungsi akuntansi biaya pada perusahaan manufaktur?


Tujuan utama akuntansi adalah menyediakan informasi finansial atau keuangan yang relevan dan handal yang terkait dengan entitas ekonomi. Informasi finansial ini digunakan untuk pengambilan keputusan dan hal-hal lainnya baik oleh pihak internal entitas, yaitu manajemen maupun oleh pihak eksternal yang memiliki kepentingan pada entitas ini, seperti investor, kreditor, dan direktorat jenderal pajak.

Semua jenis entitas atau perusahaan bisnis–pemanufakturan, perdagangan, dan jasa –membutuhkan akuntansi biaya untuk menyediakan informasi keuangan. Hanya saja, tingkat kompleksitas sistem akuntansi biaya yang digunakan berbeda-beda tergantung pada kompleksitas dan ukuran perusahaan.
Akuntansi biaya menyediakan informasi yang digunakan dalam pembuatan laporan keuangan. Pada laporan keuangan, utamanya bagian neraca perusahaan manufaktur, terdapat beberapa akun yang informasinya diperoleh dan didapat dari pengolahan data oleh akuntansi biaya.

Baca juga: Sistem Akuntansi Biaya Pesanan dan Biaya Proses Pada Akuntansi Manajemen


Sekilas info bagi sahabat Adne, perusahaan manufaktur memiliki sistem akuntansi biaya yang lebih kompleks dibandingkan jenis perusahaan jasa dan perusahaan perdagangan. Perusahaan pemanufakturan adalah perusahaan yang mengonversi (mengubah melalui proses produksi) bahan baku menjadi produk jadi (barang jadi) dengan menggunakan tenaga kerja dan berbagai sumber daya lainnya di departemen produksi atau sering disebut pabrik (factory). 

Peran Penting Akuntansi Biaya Dalam Perusahaan Manufaktur

Berkaitan dengan adanya pembagian perusahaan tersebut diatas, maka perusahaan manufaktur-lah yang paling banyak membutuhkan akuntan dalam proses berjalannya organisasi tersebut.

Tujuan akuntansi adalah menyediakan data dan informasi finansial yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi suatu entitas. Agar tujuan ini dapat tercapai, terdapat beberapa prosedur yang harus dilaksanakan. Kumpulan prosedur ini pada hakikatnya merupakan sebuah sistem.  Berangkat dari perspektif ini maka pembahasan  akuntansi biaya ini pada hakikatnya berbicara mengenai sistem biaya yang diterapkan dalam perusahaan pemanufakturan.

Akuntansi biaya merupakan sistem yang bertujuan menyediakan informasi biaya terkait produksi produk (barang) dan jasa. 

Aktivitas dan peran yang terdapat dalam akuntansi biaya pada perusahaan melingkupi aktivitas:
  1. Mengidentifikasi
  2. Menentukan
  3. Mengukur mengukur kinerja, kualitas produk, dan produktivitas sehingga akuntansi biaya sebenarnya lebih luas dari hanya sekadar menghitung biaya produk untuk tujuan penilaian sediaan (inventory) yang akan dilaporkan dalam laporan keuangan.
  4. Melaporkan
  5. Dan menganalisis berbagai elemen biaya langsung (direct costs) dan tak langsung (indirect costs) terkait dengan pemroduksian dan pemasaran produk dan/atau jasa. 
Dimana aktivitas ini pada akhirnya berujung pada kesimpulan bahwa akuntansi biaya bertujuan menghasilkan data dan informasi biaya yang digunakan oleh manajemen untuk pengambilan keputusan. 

Fungsi-Fungsi Akuntansi Biaya Untuk Perusahaan

Setelah data-data dikumpulkan melalui aktivitas akuntan seperti yang dijelaskan diatas, maka diperoleh kesimpulan dan informasi yang sangat bermanfaat bagi keberlanjutan perusahaan. Nilai tertinggi dari akuntansi biaya terletak pada data akumulasian dan laporan-laporan. 

Salah satu fungsi terpenting akuntansi biaya adalah pengembangan informasi yang dapat digunakan oleh manajemen untuk merencanakan dan mengendalikan operasional.

Perencanaan adalah proses penetapan tujuan atau sasaran perusahaan dan menentukan alat yang dapat digunakan untuk mencapainya.

Berikut ini merupakan kebergunaan data biaya yang disediakan oleh akuntansi biaya:
  • Penentuan harga jual produk
  • Memenangkan kompetisi
  • Penawaran untuk kontrak
  • Penganalisisan profitabilitas

Baca juga: Pengertian Neraca Lajur dan Proses Penutupan Pembukuan Laporan Keuangan

Penentuan Harga Jual Produk

Prinsip-prinsip akuntansi biaya telah dikembangkan dan ini memungkinkan perusahaan pemanufakturan untuk memproses beragam biaya yang terkait dengan proses pemanufakturan produk dan memberikan fitur pengendalian melekat. Informasi yang dihasilkan oleh sistem akuntansi biaya pada dasarnya adalah untuk penentuan biaya produk (product costs) dan harga jual produk (selling prices). Selain itu, informasi ini dapat membantu manajemen merencanakan dan mengendalikan operasional. 

Memenangkan Kompetisi

Lingkungan persaingan saat ini sangatlah ketat. Salah satu strategi generik yang dapat diambil oleh perusahaan adalah memenangkan persaingan dengan menggunakan harga jual sebagai keunggulan kompetitif. 

Jika harga jual produk yang dijual perusahaan ternyata kalah bersaing dengan kompetitor, informasi detail terkait biaya produksi per unit dapat digunakan untuk menentukan apakah harga jual produk dapat diturunkan dengan tujuan mengalahkan kompetitor atau menurunkan biaya produksi (cut costs) dengan beroperasi dengan lebih efisien, bahkan jika keduanya tidak dapat dilakukan maka untuk menghindari rugi lebih besar (cut losses) dengan cara mengeliminasi produk. 

Penawaran Untuk Kontrak

Banyak perusahaan pemanufakturan yang harus mengirimkan proposal penawaran yang kompetitif dengan tujuan mendapatkan kontrak tertentu. Analisis biaya produksi per unit terkait dengan pemroduksian produk tertentu merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan harga penawaran dalam kontrak. 

Penganalisisan Profitabilitas

Informasi biaya produksi per unit memungkinkan manajemen menentukan jumlah keuntungan (profit) yang harus didapatkan dari setiap jenis produk dan menunjukkan produk-produk mana saja yang harus dieliminasi karena tidak mencapai standar atau tingkat profitabilitas tertentu. Hal ini harus dilakukan agar manajemen dapat lebih mengonsentrasikan tenaganya untuk produk yang dapat menghasilkan profit memadai.

Akan tetapi, praktik yang umum juga di banyak perusahaan untuk mempertahankan jenis produk tertentu yang meskipun menghasilkan profit rendah bahkan merugi, dengan tujuan memelihara keragaman produk yang dihasilkan dalam rangka menarik pelanggan yang juga membeli jenis produk yang profitabel. 




3 Jenis Konflik Peran Dan Contoh Nyata Menurut James H Donelly


Halo, Kawan Adne, lama tidak berjumpa ya.... Kali ini, admin akan membahas mengenai konflik peran dan contoh-contohnya menurut pendapat para ahli. Eh, lebih tepatnya pendapat seorang ahli. Siapakah dia? Adalah James H Donelly yang membagi jenis-jenis konflik peran menjadi (3) tiga bagian yaitu konflik peran sendiri (person role conflict), konflik intra peran (intrarole conflict) dan konflik antar peran (interrole conflict). Tentunya materi pembahasan mengenai konflik peran ini akan Anda baca dan mudah dipahami jika sudah menguasai konsep status dan peran seseorang (person).

Anda masih ingat konsep status dan peran (role)? Flashback ke materi sebelumnya, peran adalah aspek dinamis dari status yang dimiliki individu dalam masyarakat. Nah, seorang individu bisa saja mengalami konflik peran dalam interaksi sosialnya.

Konflik peran merupakan sesuatu yang dialami individu dalam sebuah kelompok, terutama dalam unit kerja atau kelompok formal dalam suatu organisasi. Apa yang menjadi tugas atau kewajiban anggota yang bersumber dari penugasan dari organisasi dapat berpengaruh terhadap cara anggota itu memahami situasi dan bertindak dalam suatu situasi tertentu.

Kira-kira apa yang menjadi penyebab konflik peran terjadi? Kapan konflik peran itu bisa terjadi?

Konflik peran dapat terjadi ketika seseorang berada pada posisi yang membuatnya tidak konsisten antara peran yang dimiliki dan diharapkan dari dirinya dengan tindakan yang secara nyata harus dilakukannya. Dengan kata lain, karena keserbaragaman peran (multiple role) dan rangkaian peranan (role set) maka besar kemungkinan individu menghadapi situasi terjadinya dua atau lebih persyaratan peran yang satu menghalangi pelaksanaan persyaratan peran yang lain. Jika hal ini terjadi, individu akan mengalami konflik peran.

Role conflict: incompatibility between two or more roles that an individual is expected to perform in a given situation. The performance of one role interferes with or is antagonistic to the others (Theodorson, 1979: 354)

Nah, tiba saatnya kita membahas apa saja sih jenis-jenis atau macam-macam konflik peran dan contoh nyata di kehidupan sehari-hari, tentunya ini menurut pandangan James H Donelly seperti yang tercantum pada judul di atas.

Yups, James H Donelly (1984: 221) menjelaskan tentang beberapa bentuk konflik peran yang dapat terjadi dalam organisasi sebagai berikut:

KONFLIK PERAN SENDIRI ATAU PERSON ROLE CONFLICT


Konflik Peran Sendiri adalah konflik yang terjadi apabila persyaratan peran melanggar nilai dasar, sikap dan kebutuhan individu yang menduduki posisi itu.

Contoh Kasus Person Role Conflict


Seorang pemimpin perusahaan yang harus mengambil keputusan untuk memecat karyawannya, sementara pimpinan perusahaan mengetahui karyawan tadi memiliki keluarga yang menempatkan karyawan tersebut sebagai satu-satunya penyangga ekonomi rumah tangga.

Contoh lain person role conflict dapat Anda temukan misalnya seorang pejabat suatu instansi pemerintahan memilih mengundurkan diri dari jabatan karena terlibat skandal yang tidak semestinya dilakukan oleh seseorang yang menduduki jabatan itu.

KONFLIK INTRA PERAN ATAU INTRA ROLE CONFLICT


Konflik intra role merupakan konflik peran yang terjadi apabila beberapa orang yang berbeda-beda menentukan sebuah peran menurut rangkaian harapan yang berbeda-beda, sehingga tidak mungkin bagi orang yang menduduki peran itu untuk memenuhi semuanya. Hal ini sering terjadi apabila peran tertentu mempunyai serangkaian peran yang rumit, banyak hubungan peran yang berbeda-beda.

Contoh Nyata Konflik Intra Peran / Intra Role Conflict


Suatu perusahaan memproduksi barang tertentu dengan melibatkan banyak pekerja di bawah kontrol beberapa mandor. Hubungan antara mandor dengan para pekerja yang berada di bawah pengawasannya telah menunjukkan karakteristiknya sebagai suatu kelompok primer. Nah, pada saat yang sama, mandor adalah bagian dari sebuah organisasi produksi yang secara jelas menunjukkan karakteristiknya sebagai kelompok formal yang tunduk pada hierarki kekuasaan dan wewenang yang ada dalam perusahaan itu.

Hal yang dialami mandor tersebut kemudian bisa dikatakan intraroleh conflict ketika pimpinan perusahaan itu menekannya agar para pekerja bekerja lebih keras lagi untuk meningkatkan output produksinya, sementara insentif dari perusahaan yang diharapkan para pekerja sebagai imbalan dari prestasi kerjanya selama ini tidak diberikan. Posisi ‘terjepit’ peran inilah yang dinamakan intrarole conflict.

KONFLIK ANTAR PERAN ATAU INTERROLE CONFLICT


Konflik antar peran adalah konflik yang timbul karena orang menghadapi peran berganda. Hal ini karena seseorang dapat sekaligus memainkan banyak peran, beberapa di antara peran ini mempunyai harapan yang saling bertentangan. Interrole conflict ini seringkali menimbulkan konflik antara kelompok-kelompok dalam banyak organisasi.

Contoh Konflik Antar Peran


Kita bisa melihat suatu organisasi dalam bidang medis atau kesehatan, misalnya sebuah Rumah Sakit. Dalam rumah sakit itu, pimpinan administratifnya adalah seorang dokter yang juga menjadi dokter pelaksana medis di rumah sakit itu. Dokter yang menduduki jabatan administrator rumah sakit itu akan mengalami interrole conflict ini. Sebagai administrator, ia akan menekankan pentingnya efisiensi dan penghematan banyak hal, tetapi sebagai tenaga medis, tindakan efisiensi dan penghematan banyak hal, tetapi sebagai tenaga medis, tindakan efisiensi dan penghematan itu tentu tidak mudah dilakukan.


Konflik peran dalam organisasi memiliki bentuk yang sangat bervariasi, meskipun jika dikelompokkan hanya terdiri dari tiga macam konflik peran seperti yang telah Anda pelajari di atas. Anda dapat memperkaya pemahaman Anda dengan mempelajari materi lain pada website ini.



MACAM-MACAM CONTOH PENGARUH KEANGGOTAAN KELOMPOK SOSIAL PADA INDIVIDU MENURUT PARA AHLI

MACAM-MACAM CONTOH PENGARUH KEANGGOTAAN KELOMPOK SOSIAL PADA INDIVIDU MENURUT PARA AHLI


Dalam uraian berikut ini, kita akan mempertajam kemampuan pemahaman mengenai pengaruh keanggotaan kelompok pada individu. Menurut Carroll dan Tosi (1977) terdapat beberapa pengaruh dari keanggotaan seseorang pada suatu kelompok di dalam suatu organisasi, adalah sebagai berikut:
  • Dukungan Individual
  • Sikap Anggota Kelompok
  • Kepuasan Kerja
  • Ketidakhadiran dan Perpindahan dalam Kerja
  • Sikap Tolong Menolong
  • Ketegangan dan Kegelisahan
  • Perkembangan Individual


7 pengaruh keanggotaan kelompok pada individu di atas tentu memiliki penjelasan tersendiri dan saling terkait dalam membahas tentang pengaruh dan dampak yang diberikan kelompok pada seorang individu. Berikut adalah ulasan lengkapnya.

tiga orang sedang bercengkerama (credit : freepik.com)


Dukungan Individual Dari Kelompok Sosial


Apakah Anda pernah merasakan kesendirian dalam lingkungan kerja? Sebaliknya, apakah Anda merasakan kenyamanan dan rasa terpenuhi karena Anda berada dalam kelompok Anda?

Tentu kita semua tahu bahwa ada beberapa manfaat yang bisa diambil dari keanggotaan kelompok sosial bagi seorang individu.  Diantara keuntungan tersebut adalah:
  • Kelompok memberikan kesempatan bagi individu untuk berinteraksi sosial
  • Kelompok memberikan bantuan kepada masalah yang dihadapi seorang individu
  • Kelompok menyediakan petunjuk dan nasihat untuk anggota baru yang berasal dari anggota kelompok lain sehingga mudah dalam menjalankan tugasnya
  • Kelompok memberikan perlingungan bagi anggotanya secara individual
  • Kelompok juga dapat menjadi tempat bagi anggotanya untuk berlatig dan sekaligus mempraktikkan berbagai kemampuan dan keterampilan baik kemampuan teknikal, sosial dan manajemen kepemimpinan
  • Kelompok dapat memetakan posisi sosial anggotanya terhadap kelompok lain dalam organisasi itu
  • Kelompok dapat menjadi tempat praktik bagi individu yang memiliki kelebihan untuk melakukan kepemimpinan, mpraktikkan dan sekaligus mengkondisikan seseorang itu pada posisi pemimpin meskipun sifatnya informal

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat berkesimpulan bahwa anggota kelompok tumbuh dan berkembang dalam kelompok dan dalam kelompok itu pula tiap-tiap anggota saling belajar satu sama lain. Ini menandakan bahwa kelompok memberikan dukungan individual bagi anggotanya.

Sikap Anggota Kelompok Yang Mempengaruhi Anggota Lain dalam Kelompok Sosial Itu


Apakah yang mempengaruhi sikap anggota suatu kelompok? Selain faktor internal yang dimiliki anggota secara individual, faktor eksternal lain yang penting adalah harapan peran atau role expectation anggota lain dalam kelompok itu. Anggota suatu kelompok dipengaruhi dalam sikapnya oleh apa yang diharapkan dan apa yang diinginkan dari anggota yang lain. 

Artinya, sikap anggota kelompok ditentukan oleh anggota lain dalam kelompok itu. Ini sangat berkaitan dengan kuat atau lemahnya ikatan kelompok tersebut. Jika ikatan kelompok kuat, maka norma-norma yang berlaku dalam kelompok itu akan cenderung mendominasi sikap-sikap anggota kelompok. 

Sebaliknya jika ikatannya lemah, maka norma-norma kelompok relatif tidak mendominasi sikap anggota kelompok. Dalam hal ini, setiap anggota merasa memiliki kekuatan mengontrol orang lain dan sebaliknya, dirinya juga merasa dikontrol oleh anggota lain dalam organisasi itu.

Lemahnya norma dan ikatan kelompok juga menyebabkan terjadinya pelanggaran dan penyimpangan, sehingga hal tersebut dianggap biasa. Seperti contoh, sikap disiplin terhadap waktu, tidak dapat diterapkan secara maksimal karena ikatan kelompok yang lemah, karena ikatan kelompok yang lemah inilah kontrol anggota kelompok tidak dapat efektif dijalankan.

Kepuasan Kerja


Apakah Anda pernah merasakan kepuasan kerja? Kepuasan kerja tidak hanya dirasakan ketika apa yang Anda rencanakan sebelumnya dapat diwujudkan secara sempurna. Kepuasan kerja secara sosiologis berkaitan erat dengan ‘penerimaan kelompok atas keberadaan seseorang dalam kelompok atau unit kerja itu’.

Kepuasan kerja lebih berkaitan dengan perasaan diterima dan kenyamanan dalam bekerja. Penerimaan kelompok terhadap seseorang yang baru dalam kelompok itu akan menciptakan suatu kenyamanan kerja, di mana anggota baru itu dapat berinteraksi dan bekerja sama dengan anggota lain yang telah ada terlebih dahulu dalam kelompok itu.

Sebaliknya, jika penerimaan terjadi, seorang baru tersebut merasa ditolak atau tidak diterima, maka ia akan merasa selalu curiga terhadap orang lain dalam lingkungan kerja itu, ia juga merasakan sukarnya bekerja sama dengan orang lain.

Ketidakhadiran dan Perpindahan dalam Kerja


Apakah Anda pernah memiliki perasaan tidak diterima oleh lingkungan atau kelompok Anda? Apa kecenderungan yang Anda lakukan jika berada dalam situasi seperti itu? Anda tentu akan segera ke luar dari lingkungan itu dan mencari suasana lain yang dapat menerima kehadiran Anda. Begitu pula yang terjadi dalam organisasi.

Jika tingkat kepuasan kerja mengalami penurunan, maka ketidakhadiran dalam kerja akan cenderung mengalami peningkatan. Jika penerimaan atas kehadiran seseorang dalam kelompok rendah sehingga ia merasa tidak dapat bergaul dan berinteraksi dengan anggota lain dalam kelompok itu, maka kecenderungan tidak hadir dalam kerja juga akan tinggi. Bahkan tidak mustahil, tidak diterimanya seseorang dalam kelompok itu dapat menyebabkan seseorang ke luar dari organisasi.

Sikap Tolong Menolong Dalam Organisasi


Anda pasti membutuhkan pertolongan orang lain dalam hidup Anda. Begitu pula yang terjadi dalam kehidupan berorganisasi, saling bantu membantu. Juga saling tolong menolong demi tercapaianya tujuan organisasi.

Sikap tolong menolong di antara sesama anggota kelompok merupakan suatu sikap atau aktivitas yang berlaku secara universal. Artinya, dimanapun dan kapan pun aktivitas ini dapat terjadi atau dapat ditemukan dalam semua bentuk kelompok, misalnya keluarga, organisasi kerja, pabrik, industri, kesatuan militer dan sebagainya.

Sikap tolong menolong dimana kerja sama dan saling membutuhkan merupakan dasar bagi organisasi untuk melakukan kegiatan koordinasi agar lebih mudah sehingga dapat menunjang kelancaran tugas atau pekerjaan.

Sikap tolong menolong antar anggota juga dapat bernilai negatif. Misalnya, sikap tolong menolong yang bermotif pencurian properti organisasi, atau sikap tolong menolong sesama karyawan pabrik yang melakukan kegiatan pemogokan sebagai bentuk solidaritas di antara anggota kelompok.

Ketegangan dan Kegelisahan Dalam Kelompok Yang Mempengaruhi Individu


Sumber dari ketegangan dan kegelisahan pada dasarnya adalah terletak pada ikatan kelompok. Pada kelompok yang memiliki ikatan kelompok yang kuat, kecenderungan terjadinya kegelisahan dan ketegangan akan rendah. Sebaliknya, pada kelompok yang ikatannya lemah, ketegangan dan kegelisahan akan menjadi tinggi.

Jadi jelas bahwa kelompok sangat berpengaruh terhadap segi kesehatan mental dari anggota karena dalam kelompok, anggota mendapatkan perlakuan yang dapat mengurangi atau sebaliknya, meningkatkan ketegangan dan kegelisahannya dalam bekerja.

Perkembangan Individual Yang Mempengaruhi Orang Tersebut


Apakah Anda merasakan ada banyak tambahan pengalaman yang berharga ketika Anda beraktivitas dalam kelompok Anda? Pengalaman yang dialami seseorang selama berproses bersama anggota kelompok lain merupakan sesuatu yang memberikan kontribusi bagi perkembangan Anda.

Ini berarti secara individual, pertumbuhan dan perkembangan kemampuan seseorang dalam suatu organisasi kerja dipengaruhi oleh kelompoknya. Situasi kerja dan situasi sosial dalam pekerjaan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan dan pertumbuhan kemampuan pekerja secara individual.



Pengertian Kelompok Sosial dan Jenis-jenis Konflik Pada Kelompok Sosial



PENGERTIAN KELOMPOK SOSIAL


Kelompok sosial merupakan suatu himpunan manusia dalam jumlah tertentu, yang di antara anggotanya terjadi interaksi sosial, untuk jangka waktu tertentu, sehingga di dalam proses interaksi antaranggota itu muncul pola interaksi sosial tertentu, muncul perasaan sebagai bagian dari kelompok maupun adanya tatanan dan aturan atau norma yang mengatur perilaku anggota kelompok serta tumbuhnya identitas kelompok yang disadari dan diakui secara bersama oleh anggota kelompok itu.

Dalam berbagai organisasi, interaksi antaranggotanya sangat dipengaruhi oleh adanya berbagai kelompok sosial yang ada ddalam organisasi itu, ada perasaan sebagai bagian dari in-group maupun out-group. Jika dicermati secara seksama, dalam organisasi juga ditemukan kelompok primer maupun sekunder.

Sebagaimana halnya in group dan out-group serta kelompok primer dan sekunder, dalam organisasi akan sangat jelas dapat dilihat suatu interaksi sosial yang menggambarkan adanya karakteristik kelompok formal dan informal.

PENGARUH KEANGGOTAAN KELOMPOK SOSIAL KEPADA INDIVIDU


Kelompok-kelompok sosial yang disebutkan di atas, sangat mempengaruhi interaksi sosial antaranggota organisasi. Menurut Carroll dan Tosi (1977), terdapat beberapa pengaruh dari keanggotaan seseorang pada suatu kelompok di dalam suatu organisasi. Pengaruh tersebut diantaranya adalah:
  • Dukungan individual
  • Sikap anggota kelompok
  • Kepuasan kerja
  • Ketidakhadiran dan perpindahan dalam kerja
  • Sikap tolong menolong
  • Ketegangan dan Kegelisahan
  • Perkembangan Individual


JENIS KONFLIK YANG ADA PADA KELOMPOK SOSIAL


Suatu konflik atau masalah dapat terjadi antar kelompok maupun dalam kelompok itu sendiri yang sangat besar pengaruhnya terhadap keberadaan organisasi. Konflik dalam hal ini dapat dibedakan menjadi konflik peran dan konflik antarkelompok.

KONFLIK PERAN MENURUT JAMES H DONELLY


James H Donelly (1984: 221) menjelaskan tentang beberapa bentuk konflik peran yang dapat terjadi dalam sebuah organisasi atau kelompok-kelompok sosial lainnya. Konflik peran tersebut, dibagi menjadi dua yaitu: konflik peran sendiri (person role conflict) dan konflik intra peran (intrarole conflict).

KONFLIK ANTAR KELOMPOK SOSIAL


Konflik antarkelompok berhubungan dengan tingkat pencapaian kinerja organisasi. Tingkat konflik antarkelompok pada titik optimum memberi dampak tertinggi atas kinerja organisasi, kemudian terus menurun tingkat kerjanya pada saat tingkat konfliknya antarkelompok semakin tinggi.

Hubungan antara tingkat kinerja organisasi dengan tingkat konflik antarkelompok menghasilkan tiga macam situasi:

Level Situasi I dalam Konflik Kelompok Sosial

Adalah situasi dimana tingkat konflik antar kelompok sangat rendah atau bahkan hampir tidak ada konflik sama sekali. Karakteristik organisasi dalam situasi ini ditandai oleh tingkat penyesuaian diri yang lambat terhadap perubahan lingkungan, sangat sedikit tantangan dan stimulasi terhadap gagasan. Anggota organisasi cenderung apatis, karena apa yang dilakukan tetap pada posisi status quo, tidak memberi perubahan apapun.

Akibat selanjutnya, organisasi mengalami stagnasi. Jika kondisi ini berlanjut, akan dapat menjadi ancaman potensial bagi kelangsungan hidup organisasi. Secara umum kondisi ini mengganggu atau disfungsi kepada pencapaian tingkat kinerja organisasi yang tinggi.

Level Situasi II dalam Konflik Kelompok Sosial

Tingkat konflik antarkelompok mencapai tingkat optimal. Karakteristik organisasi pada fase ini ditandai oleh adanya dinamika yang menuju ke arah positif menuju tujuan organisasi dan inovatif dan perubahan mudah diintrodusir, pencarian pemecahan persoalan dilakukan melalu pengembangan kreativitas dan penyesuaian yang cepat terhadap perubahan lingkungan. Secara umum, pada situasi ini dampaknya terhadap kinerja organisasi cukup positif, bermanfaat atau fungsional terhadap pencapaian tingkat kinerja organisasi yang tinggi.

Level Situasi III dalam Konflik Kelompok Sosial

Tingkat konflik makin tinggi. Karakteristik organisasi pada fase ini ditandai oleh kenyataan bahwa konflik mulai dirasakan mengganggu pelaksanaan aktivitas organisasi. Dalam banyak hal terjadi campur aduk dan tumpang tindih dengan kegiatan sehingga sangat mengganggu aktivitas organisasi. Koordinasi sukar dilakukan karena resistensi masing-masing kelompok cukup kuat. Sebagai hasilnya, kondisi penuh kekacauan sangat mendominasi hubungan sosial dalam organisasi. Jika kondisi ini berlanjut, akan dapat menjadi potensial bagi kelangsungan hidup organisasi. Secara umum, kondisi ini mengganggu atau terjadi disfungsi terhadap pencapaian tingkat kinerja organisasi yang tinggi.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KONFLIK DALAM KELOMPOK SOSIAL


Ada berbagai faktor yang mempengaruhi konflik antar kelompok sosial yang dapat diidentifikasi mempengaruhi terjadinya konflik antarkelompok, yang menghasilkan sesuatu yang tidak produktif, antara lain sebagai berikut:
  • Perebutan sumber-sumber
  • Perbedaan status dalam kegiata/kerja
  • Perbedaan tujuan dan persepsi
  • Saling ketergantungan


Dalam situasi antar kelompok saling tergantung ini, konflik akan sangat mudah terjadi. Secara umum, saling ketergantungan ini dapat dibedakan menjadi:
  • Ketergantungan yang dipusatkan (pooled interdependence)
  • Ketergantungan yang berurutan (sequential interdependence)
  • Ketergantungan timbal balik (reciprocal interdependence)


Demikian materi mengenai konflik-konflik dalam kelompok sosial yang marak terjadi pada bingkai jalannya suatu organisasi. Semoga ulasan ini dapat bermanfaat. Selamat belajar!




Berbagai Macam Definisi Organisasi Menurut Penekanan dan Pendekatan-Pendekatannya


Organisasi, memiliki beberapa definisi atau pengertian sesuai dengan penggunaannya. Istilah organisasi tentu sangat luas. Ada berbagai macam dan jenis definisi organisasi jika dilihat dari penekanan dan fokus kajiannya. Penekanan yang dimaksud adalah kumpulan orang, pembagian kerja, sistem kerja sama, sistem hubungan atau sistem sosial.

Berikut ini akan dibahas mengenai definisi organisasi menurut para ahli beserta penekanan-penekanan dan ruang lingkup pembahasannya.

DEFINISI ORGANISASI DENGAN PENEKANAN PADA KUMPULAN ORANG


Maksud dari pengertian di atas adalah organisasi dilihat definisinya dari sudut pandang kumpulan orang-orangnya. Akan lebih banyak frasa ‘kumpulan orang’ dalam definisi yang diberikan oleh para ahli berikut ini:

James D. Monney, dalam bukunya The Principles of Organization menyatakan bahwa:
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk pencapaian suatu tujuan bersama.

Ralp Currier Davis, dalam bukunya The Fundamental of Top Management memberikan definisi organisasi sebagai:

Organisasi adalah suatu kelompok orang-orang yang sedang bekerja ke arah tujuan bersama di bawah suatu kepemimpinan tertentu.

Pengertian organisasi menurut Ernest Dale, dalam bukunya Planning and Developing the Company organizations Structure, menyatakan:

Organisasi adalah suatu proses perencanaan. Ini berkaitan dengan hal menyusun, mengembangkan dan memelihara suatu struktur atau pola hubungan-hubungan kerja dari orang-orang dalam suatu badan usaha/perusahaan.

Definisi organisasi berikutnya, datang dari seorang Alvin Brown yang dikemukakan dalam bukunya, Organization: A Formulation of Principles

Organisasi merumuskan bagian pekerjaan yang diharapkan dilakukan masing-masing anggota dari suatu badan usaha dan hubungan-hubungan di antara para anggota dengan maksud agar usaha bersama mereka menjadi paling efektif bagi tujuan dari badan usaha itu.

Anda bisa melihat bahwa definisi-definisi di atas merupakan contoh dari banyak definisi yang dikemukakan para ahli yang memberikan pengertian organisasi dengan penekanan pada ‘kumpulan orang’. Pengertian-pengertian organisasi tersebut menunjukkan bahwa faktor ‘human’ merupakan bagian vital dalam sebuah organisasi.

DEFINISI ORGANISASI DENGAN PENEKANAN PADA PROSES PEMBAGIAN KERJA


Berikut ini adalah pengertian organisasi menurut para ahli yang adalah ditekankan pada proses pembagian kerjanya. Jika definisi-definisi sebelumnya menekankan pada ‘human’ maka definisi organisasi berikut ini lebih menekankan pada ‘process’ atau kerja sama.

Definisi organisasi menurut Harleigh Trecker. Trecker dalam bukunya Group Process in Administration menyatakan bahwa:

Organisasi adalah tindakan atau proses menghimpun atau mengatur kelompok-kelompok yang saling berhubungan dari berbagai bagian ke dalam satu keseluruhan yang bekerja.

Sementara pendapat Cyrul Soffer dalam Organization in Theory and Practice, menyatakan bahwa:

Organisasi adalah perserikatan orang, yang masing-masing diberi peranan tertentu dalam suatu sistem kerja dan pembagian kerja di mana pekerjaan dibagi-bagi menjadi perincian tugas, diberikan di antara pemegang peranan dan kemudian digabung dalam beberapa bentuk hasil.

Edgar Schein dalam bukunya Organizational Psychology memberikan definisi lain pada organisasi dengan penekanan proses pembagian kerja. Beliau berpendapat bahwa:

Organisasi adalah koordinasi yang rasional dari aktivitas-aktivitas sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan yang jelas, melalui pembagian kerja dan fungsi serta melalui jenjang wewenang dan tanggung jawab.

Definisi selanjutnya datang dari Theo Haimann dalam bukunya yang berjudul Professional Management, menyatakan bahwa:

Organisasi berarti penentuan dan penugasan kewajiban-kewajiban kepada orang-orang dan juga penentuan dan pemeliharaan hubungan wewenang antara berbagai aktivitas yang dikelompokkan.

Sekarang Anda bandingkan dengan uraian sebelumnya. Anda tentu akan melihat perbedaan yang jelas. Beberapa definisi di atas hanyalah sebagian dari banyak definisi tentang organisasi yang memberikan penekanan pada proses pembagian kerja.

DEFINISI ORGANISASI DENGAN PENEKANAN PADA SISTEM KERJA SAMA, SISTEM HUBUNGAN ATAU SISTEM SOSIAL


Di bawah ini adalah berbagai macam pendapat para ahli tentang definisi organisasi jika dilihat pada sudut pandang sistem kerja sama, sistem hubungan atau sistem sosial.

Definisi organisasi menurut Chestter I Barnard, dalam bukunya The Function of The Executive

Organisasi adalah suatu sistem tentang aktivitas-aktivitas kerja sama dari dua orang atau lebih sesuatu yang tak berwujud dan tak bersifat pribadi, sebagian besar mengenai hubungan-hubungan.

Definisi organisasi menurut John D Millet dalam bukunya Management in Public Service, memberikan pendapatnya yang berupa:

Organisasi adalah orang-orang yang bekerja sama dan dengan demikian ini mengandung ciri-ciri hubungan-hubungan manusia yang timbul dalam aktivitas kelompok.

Sementara pengertian definisi menurut Dwight Waldo, yang dikutip dalam bukunya The Study of Public Administration menyatakan:

Organisasi adalah struktur hubungan-hubungan di antara orang-orang berdasarkan wewenang dan bersifat tetap dalam suatu sistem administrasi.

Definisi organisasi menurut Paul C. Bartholomew (An Outline of Public Administration) adalah:

Organisasi adalah susunan yang logis dari bagian-bagian yang saling bergantung untuk mewujudkan suatu keseluruhan yang bersatu padu dengan mana kekuasaan dan kontrol dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu.


Pada bagian terakhir dari tiga kumpulan definisi ini, Anda makin jelas melihat perbedaan dengan dua penekanan yang terdahulu. Beberapa definisi yang dikemukakan ini merupakan beberapa contoh dari banyak definisi lain yang dikemukakan oleh para ahli mengenai organisasi, di mana penekanan dari berbagai definisi itu terletak pada sistem kerja sama, sistem hubungan atau sistem sosial.




Organisasi Formal dan Organisasi Informal Beserta Contohnya


Pada kegiatan belajar sebelumnya, kita telah mempelajari pengertian organisasi dan organisasi sosial berikut tipologi atau klasifikasinya yang dibuat oleh para ahli. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai materi organisasi formal dan organisasi informal/organisasi non formal/organisasi tidak formal beserta contoh-contohnya. Seperti yang telah disinggung, pembagian klasifikasi organisasi menurut para ahli ini merupakan salah satu materi tipologi organisasi. Mari simak ulasan materinya!

Sejatinya organisasi dibedakan menjadi organisasi formal dan organisasi informal karena diihat dari tingkat kepastian strukturnya. Meskipun tingkat kepastian struktur ini merupakan dasar yang utama, tetapi sebenarnya terdapat dasar lain, yang dapat dipakai untuk melihat persamaan dan perbedaan antara organisasi formal dan organisasi informal. Salah satu pendapat yang menggunakan tingkat kepastian struktur sebagai dasar tipologi ini adalah yang dikemukakan oleh Herbert G. Hicks (Sutarto, 1981: 11-13).

PENGERTIAN ORGANISASI FORMAL


Ada beberapa pendapat para ahli yang dapat dijadikan acuan dalam mendefinisikan organisasi formal. Akan tetapi, kali ini kita akan menggunakan definisi organisasi formal menurut Theodorson.

“Formal organization is a highly organized group having explicit objectives, formally stated rules and regulations and a system of specially defined roles, each with clearly designated rights and duties” – Theodorson, 1979: 287

Definisi organisasi formal di atas dapat diartikan secara bebas menjadi:

“Organisasi formal adalah suatu perkumpulan yang sangat terorganisir secara objektif, memiliki peraturan dan regulasi tertulis yang jelas dan sebuah sistem dimana setiap tugas, wewenang dan hak diberikan secara terstruktur dan berkesinambungan.”

CIRI-CIRI ORGANISASI FORMAL


Dengan membedah definisi yang diberikan diatas, akan dapat diketahui berbagai macam-macam ciri dari organisasi formal, termasuk di dalamnya bentuk komunikasi dalam organisasi tersebut.
Ciri-ciri organisasi formal adalah:
  • Memiliki perincian pekerjaan yang jelas bagi tiap anggota
  • Memiliki tujuan organisasi yang jelas
  • Terdapat pengaturan yang tegas mengenai status, gaji, pangkat dan penghasilan 
  • Memiliki perencanaan yang matang sehingga tahan lama
  • Memiliki aturan baku, sehingga tidak bisa fleksibel
  • Keanggotaan diperoleh secara sadar, untuk waktu tertentu dan biasanya bersifat terbuka


6 ciri-ciri organisasi formal di atas adalah apa yang menyebabkan suatu organisasi dikatakan formal atau tidak formal. Kategori-kategori suatu organisasi dikatakan formal, jika, sedikitnya memiliki ciri berupa perencanaan organisasi yang matang, rincian tugas dan kedudukan, terstruktur dan memiliki aturan baku yang mengikat.

10 CONTOH DARI ORGANISASI FORMAL


Jika ada pertanyaan atau soal yang berbunyi: sebutkan contoh organisasi formal? Apa yang ada di benak pembaca? Sebetulnya dengan melihat ciri-ciri organisasi formal, ada beberapa organisasi di sekeliling kita yang bisa dikategorikan sebagai organisasi formal. Daftar contoh-contoh organisasi formal adalah:
  • Pemerintahan Daerah (Pemda)
  • Perusahaan besar (swasta, private company)
  • Universitas
  • Angkatan bersenjata
  • Koperasi
  • BUMN/BUMD
  • LSM
  • Organisasi Non-profit (Seperti Walhi, Greenpeace, Indonesia Mengajar, Remaja Masjid, dll)
  • Partai Politik
  • Organisasi profesi (Ikatan Dokter Indonesia, Peradi, Himpunan Artis Pengusaha Seluruh Indonesia, dll)


PENGERTIAN ORGANISASI INFORMAL/NON-FORMAL/TIDAK FORMAL


Definisi organisasi formal adalah berlawanan dengan organisasi formal. Artinya suatu organisasi jika ia bukan merupakan organisasi formal, maka sudah barang tentu organisasi tersebut dikategorikan sebagai organisasi informal. Ini jika dilihat dari tipologi organisasi menurut tingkat kepastian struktur.
Jadi apa yang dimaksud organisasi informal?

“Informal organization is the system of personal relationship that develops spontaneously as individuals interact within a formal organization.” – Theodorson, 1979: 287

Jadi, menurut pendapat Theodorson, organisasi informal adalah sebuah sistem hubungan personal yang terbentuk secara spontan antar individu yang berinteraksi dalam ruang lingkup organisasi formal.

Organisasi informal dibentuk bukan atas suatu peraturan hukum tertentu, tetapi lebih merupakan kesepakatan secara spontan antar anggota dalam sebuah organisasi.

Organisasi informal adalah stempat dimana individu mencurahkan kekecewaannya terhadap kebijakan yang terdapat pada organisasi formal. Bisa dikatakan bahwa jika individu-individu yang kecewa pada keputusan organisasi formal, maka mereka akan cenderung membentuk organisasi informal yang terdiri dari anggota-anggota yang memiliki perasaan atau sikap sama-sama kecewa.

KARAKTERISTIK ATAU SIFAT ORGANISASI TIDAK FORMAL


Melihat acuan dari ciri-ciri organisasi formal, maka sifat organisasi non formal adalah kebalikan atau negasi dari semua ciri-ciri yang terdapat pada organisasi formal. Ciri ciri tersebut adalah:
  • Tidak memiliki perincian tugas yang jelas
  • Bersifat bebas, fleksibel
  • Tidak mengikat
  • Bersifat tidak pasti, spontanitas
  • Keanggotaan bersifat terbuka dan bebas (tidak bisa dipastikan kapan menjadi anggota, dan kapan tidak menjadi anggota)
  • Memiliki ketentuan tidak formal, bisa berubah-ubah dan tidak tertulis yang bersifat kesepakatan bersama

Perlu digarisbawahi bahwasannya ORGANISASI INFORMAL bisa menjelma menjadi ORGANISASI FORMAL yang berbeda dengan organisasi induk dan ini bisa saja menyebabkan disintegrasi organisasi.

CONTOH-CONTOH ORGANISASI INFORMAL


Setelah mengetahui definisi dan ciri-ciri organisasi informal, berikut ini adalah daftar dari contoh organisasi informal yang teman-teman dapat ketahui:
  • Klub motor, klub baca, klub skate board
  • Perkumpulan bridge
  • Persahabatan, brotherhood, dll

Contoh nyatanya: Ada sebuah klub Moge Harley Davidson di kota Anda. Anda tentu harus membeli moge Harley Davidson untuk bergabung dengan klub tersebut. Setelah Anda membeli moge, dan ikut klub mereka, apakah Anda sudah merasakan sebagai anggota organisasi klub tersebut? Apakah Anda merasa terikat dan merasa membutuhkan mereka? Apakah ada sanksi jika Anda tidak mengikuti acara touring mereka? Jika seumpama Anda menjual moge Anda tersebut, apakah Anda beroleh pinalti? Tentu tidak. Anda menjadi anggota moge tersebut karena Anda memiliki sepeda motor dengan tipe yang sama. Jika Anda menjual moge, maka otomatis Anda bukan lagi anggota dari klub motor tersebut.


Sekian pembahasan materi tentang organisasi formal dan organisasi informal kali ini. Pada pembahasan berikutnya, kami akan mengulas tentang struktur organisasi formal dan struktur organisasi informal berikut persamaan dan perbedaan-perbedaan organisasi tersebut secara lengkap.




[ORGANISASI DAN MANAJEMEN] Teori Organisasi dan Manajemen Klasik: Hubungan Antara Birokrasi, Administrasi dan Manajemen

[ORGANISASI DAN MANAJEMEN] Teori Organisasi dan Manajemen Klasik: Hubungan Antara Birokrasi, Administrasi dan Manajemen

Selamat berjumpa  di Tutorial Online (Tuton) pada sesi ke 2 (dua), pada mata kuliah ADPU4217  Organisasi dan Manajemen (Edisi 2). Pada pertemuan kali ini  akan membahas dari Buku Materi Pokok (BMP) ADPU4217 OM,  Modul 1 yaitu  Hubungan Antara Administrasi, Organisasi, dan Manajemen, dan Modul 2 yaitu Teori Organisasi dan Manajemen Klasik.

Seluruh materi dapat Anda baca dalam ruang baca virtual (RBV) atau bahan ajar digital dengan alamat berikut: http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/2016/08/08/adpu4217-organisasi-dan-manajemen-edisi-2/


Capaian Pembelajaran (CP) pada sesi ke-2 ini adalah: mahasiswa mampu: (a) menjelaskan hubungan antara administrasi, organisasi, dan manajemen; dan (b) menjelaskan teori organisasi dan manajemen klasik.


demonstrasi adalah bentuk luapan kekecewaan pada sistem organisasi dan manajemen publik yang buruk


LATAR BELAKANG SEJARAH PERTUMBUHAN BIROKRASI


Latar Belakang pertumbuhan birokrasi, anda dapat baca dalam modul 2 dimulai dari :

  • Pertumbuhan Birokrasi di Mesir
  • Pertumbuhan Birokrasi di Cina
  • Birokrasi di Inca
  • Pertumbuhan Birokrasi di Romawi
  • Pertumbuhan Birokrasi di Eropa
  • Munculnya Sistem Kekuasaan Sentral
  • Birokrasi di Negara Perancis
  • Pertumbuhan Birokrasi di Prussia
  • Hubungan Antara Pemikiran-pemikiran Teori Klasik


HUBUNGAN ANTAR BIROKRASI, TEORI ADMINISTRASI DAN SCIENTIFIC MANAGEMENT


Seperti telah dikemukakan bahwa birokrasi, teori administratif dan scientific management merupakan pemikiran yang muncul hampir dalam waktu yang bersamaan dan satu sama lain saling menunjang dan searah khususnya yang bertujuan untuk menciptakan efisiensi dalam organisasi. Ketiga pemikiran ini menekankan pada spesialisasi dan struktur organisasi berdasarkan hirarki dan kriteria fungsi.

Hubungan antara birokrasi dan teori administratif sangat erat dan dalam beberapa hal mereka sama. Kesamaan itu adalah dalam sifatnya yang deduktif dan memandang organisasi dari segi normatif nya. Keduanya menekankan segi objektif, rasionalisasi, kepastian, hirarki, dan profesional dan menghasilkan organisasi formal dengan karakteristik yang sama. Keduanya memfokuskan perhatian pada struktur dan organisasi manusia dan manusia, dimulai dari tingkat atas. Oleh sebab itu, pandangannya bersifat makro dan orientasinya top – down (dari atas ke bawah organisasi).

PERBEDAAN ANTARA BIROKRASI DAN TEORI ADMINISTRATIF


Hanya saja ada perbedaan antara birokrasi dan teori administratif. Birokrasi menekankan pada apa yang harus dilakukan organisasi (what an organization ought to be). Sedangkan teori administratif menekankan bagaimana memperbaiki organisasi formal (how to acomplish it), dengan menerapkan prinsip-prinsip teori administratif Dengan demikian birokrasi memfokuskan perhatiannya pada organisasi sedangkan teori administratif memfokuskan perhatiannya pada manajemen.

Scientific management memfokuskan unit analisisnya pada kegiatan fisik pekerjaan dan sebagian besar hubungan pekerja dan pekerjaannya. Jadi penekanannya atas hubungan manusia-mesin dengan tujuan utamanya memperbaiki tugas pekerjaan rutin dan yang bersifat repetitif. Scientific management, pendekatannya bersifat empiris, induktif, dan melakukan penelitian terperinci terhadap pekerjaan untuk menentukan bagaimana yang paling efisien suatu pekerjaan harus dilakukan. Sasaran utamanya adalah organisasi tingkat bawah (bengkel kerja) sehingga pandangannya bersifat mikro dan orientasinya bottom–up (dari tingkat bawah organisasi ke tingkat atas).



KESIMPULAN TEORI ORGANISASI KLASIK


Terakhir teori organisasi klasik dapat disimpulkan sebagai berikut.

  • Penekanan efisiensi dalam segala aktivitas organisasi.
  • Manusia dianggap sebagai salah satu faktor produksi dengan spesialisasi tugas dan mekanisme kerja secara berulang-ulang seperti mesin (robot). Dari segi ini teori organisasi klasik ini disebut juga Teori Organisasi Mekanik.
  • Segala kegiatan organisasi berlandaskan pada peraturan undang-undang, prosedur dan metode. Dari segi ini Teori Organisasi Klasik juga disebut Teori Organisasi Formal.
  • Pengawasan dari atasan dan ketat.

[ORGANISASI DAN MANAJEMEN] Menyusun Organisasi Formal dan Proses Pendelegasian Wewenang

[ORGANISASI DAN MANAJEMEN] Menyusun Organisasi Formal dan Proses Pendelegasian Wewenang

PETUNJUK MODUL 3 ORGANISASI DAN MANAJEMEN UNIVERSITAS TERBUKA


Selamat berjumpa kembali di sesi ke-3 (tiga). Pada pertemuan kali ini akan membahas satu modul, yaitu Modul 3 dengan judul: Menyusun Organisasi Formal. Modul ini terdiri dari 3 (tiga) kegiatan belajar, masing-masing membahas mengenai Pengorganisasian, Pendelegasian wewenang, dan rentang Pengawasan.

Capaian pembelajaran sesi 3 ini adalah: mahasiswa mampu menjelaskan cara menyusun organisasi formal.

Seluruh materi dapat Anda baca dalam ruang baca virtual (RBV) atau bahan ajar digital dengan alamat berikut: http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/2016/08/08/adpu4217-organisasi-dan-manajemen-edisi-2/

kepemimpinan dan mendorong kerjasama teamwork adalah keahlian utama seorang manajer


MATERI SINGKAT : MENYUSUN ORGANISASI FORMAL DAN PENDELEGASIAN WEWENANG


Penyusunan organisasi adalah suatu proses untuk menciptakan struktur kerangka organisasi yang menunjukkan segenap tugas dan kedudukan masing-masing peserta secara jelas baik batas-batas dan tugas dan tanggung jawabnya maupun hubungan-hubungannya satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Proses itu adalah kegiatan yang beruntun dalam arti atau kalau kegiatan yang satu selesai maka akan disusul oleh kegiatan yang lain sampai selesai.

Struktur yang disusun secara jelas dan tegas ini disebut organisasi formal. Berikut ini akan dibahas proses penyusunan organisasi yang terdiri dari tiga langkah pokok tersebut, yaitu:
  1. Pembentukan departemen atau unit (bagian) organisasi.
  2. Pendelegasian wewenang.
  3. Penentuan rentangan pengendalian atau pengawasan dan koordinasi.

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM DEPARTEMENTASI


Maksud diadakan departementasi ini ialah supaya kegiatan-kegiatan yang ditunaikan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi dapat terlaksana dengan efisien. Oleh sebab itu, dalam membantu departementasi ini ada beberapa hal yang perlu dipedomani dan diperhatikan yaitu:
  • Ambil manfaat dari spesialisasi
  • Memudahkan pengendalian
  • Membantu dalam pengkoordinasian tugas
  • Menjamin adanya perhatian yang cukup
  • Mengenal keadaan setempat
  • Menekan pembiayaan


PROSES-PROSES PENDELEGASIAN WEWENANG


Proses pendelegasian wewenang dari atasan kepada bawahannya menurut Newman (W. H. Newman, 1963) ada tiga peristiwa yang terjadi sekaligus, yaitu sebagai berikut:
  • Menunjukkan atau memberikan tugas-tugas tertentu untuk dikelola oleh bawahan.
  • Memberi izin kepada bawahan untuk membuat perjanjian, menggunakan sumber-sumber yang tersedia dan mengambil keputusan dan tindakan tertentu dalam batas tugas yang telah didelegasikan kepadanya (zone of acceptance).
  • Menciptakan tanggung jawab (responsibility) bagi setiap bawahan yang menerima pendelegasian terhadap atasannya untuk melaksanakan tugas tersebut dengan memuaskan.


Contoh Kasus Pendelegasian Wewenang

Seorang atasan melimpahkan wewenang kepada bawahannya untuk mengelola urusan pembelian alat-alat kantor. Hal ini berarti pula bahwa dia diperbolehkan untuk menyeleksi dan memilih rekanan-rekanan yang mendaftarkan dirinya, memutuskan rekanan mana yang dipilih, mengadakan perjanjian pembelian dengan rekanan tersebut, menggunakan sejumlah dana dan alat perlengkapan untuk bekerja. Semenjak tugas itu didelegasikan kepadanya maka timbullah kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas tersebut kepada atasannya. Tetapi, walaupun tugas tersebut telah didelegasikan kepada bawahan, namun atasan tidak berarti lepas dari pertanggungjawaban. Dia tetap bertanggung jawab karena tanggung jawab terakhir tidak dapat didelegasikan.

5 FAKTOR YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM MENENTUKAN LUAS RENTANG PENGAWASAN


The Liang Gie telah memetik pendapat Mary Chusing Nile yang mengatakan bahwa ada lima faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan luas rentang pengawasan, yaitu sebagai berikut.
  1. Hal-hal yang Berhubungan dengan Rencana Organisasi
  2. Jalinan Hubungan di Antara Orang-orang dan Pekerjaan yang Harus Dikendalikan
  3. Kemampuan Orang dalam Organisasi yang Bersangkutan, Baik Atasan maupun Bawahan
  4. Corak dan Ragam Pekerjaan
  5. Kestabilan Organisasi dan Pejabat-pejabatnya

[MANAJEMEN] Teori Z : Pengertian, Kelebihan dan Kelemahan Teori Z atau Model Manajemen Jepang-Amerika

PENGERTIAN TEORI Z


Teori Z adalah teori manajemen yang seringkali diasosiasikan dengan Teori Manajemen Jepang. Teori ini dikembangkan pada masa berkembang pesatnya ekonomi Asia, utamanya untuk Negara Jepang. Teori manajemen Z menekankan pada transformasi (perubahan) aksi organisasi dan penerapan fungsi-fungsi dari berbagai teknik manajemen untuk menjamin kepuasan hati karyawan dan menjaga motivasi kerja para anggota organisasi.


pejalan kaki di Jepang | credit: Photo by Jason Ortego on Unsplash


Sebetulnya, Teori Z adalah percampuran antara teori manajemen Amerika dengan filosofi dari model manajemen Jepang.

Seperti halnya sistem manajemen organisasi lain, terdapat kelemahan dan kelebihan Teori Z yang akan kita bahas pada saat ini. Kelebihan dan kelemahan Teori Z adalah bukti bahwa teori manajemen ini terbukti secara ilmiah (scientific management) dan dapat diuji keefektifannya.

KELEBIHAN MODEL MANAJEMEN TEORI Z


Paling tidak ada 10 kelebihan atau kekuatan model manajemen teori Z. Kelebihan dari Teori Z merupakan perpaduan dari point-point penting yang menjadi kekuatan dari model manajemen Amerika dan manajemen Jepang. 10 (sepuluh) kelebihan atau kekuatan teori Z adalah:
Meningkatkan produktivitas
Loyalitas perusahaan kepada karyawan
Menjamin kepuasan batin karyawan
Meningkatkan sikap percaya dan keterbukaan para anggota organisasi
Menjalin hubungan yang kuat antara karyawan dengan organisasi
Pendayagunaan karyawan
Meningkatkan solidaritas teamwork (kelompok kerja)
Membangun tingkat komitmen karyawan kepada perusahaan
Mempromosikan kesempatan untuk berkembang di semua bidang organisasi
Adanya kontrol sistem


Adapun penjelasan kelebihan teori Z / Manajemen Jepang adalah sebagai berikut:

Meningkatkan Produktivitas

Karena teori Z merupakan perpaduan dari model manajemen Jepang dan Amerika, maka terdapat beberapa bagian dari teori manajemen ini yang terinspirasi dari kedua model manajemen induknya. Salah satu kelebihan utama dari Teori Z adalah meningkatkan produktivitas kerja para karyawan dan anggota organisasi yang lain.

Kelebihan ini diambil dari teori manajemen Jepang, yakni memberikan kesempatan pengembangan diri para karyawan melalui training atau berbagai pelatihan dan acara motivasi kerja sehingga dapat memberikan suntikan semangat bagi para karyawan untuk bekerja lebih giat lagi.

Loyalitas Perusahaan Kepada Karyawan

Yang dimaksud dari loyalitas perushaaan kepada karyawan adalah, perusahaan dengan model teori Z menjamin security atau keamanan karyawan dalam berkarir di perusahaan tersebut. Artinya perusahaan menjamin agar jangan sampai memberhentikan karyawan meskipun dalam kondisi perekonomian yang tidak menentu.

Rupanya penyediaan keamanan karir oleh pihak perusahaan ini, menghasilkan umpan balik berupa loyalitas pekerja kepada perusahaan. Sehingga jarang sekali para karyawan dari perusahaan dengan teori Z tidak betah dan mengundurkan diri dari jabatannya.

Menjamin Kepuasan Batin Karyawan

Tujuan utama dari teori Z adalah menjamin kepuasan para karyawan untuk bekerja di perusahaan sehingga menimbulkan produktivitas tinggi yang menguntungkan perusahaan tersebut. Sehingga teori Z dapat dikatakan mampu memberikan jaminan kepuasan batin karyawan dengan menyediakan berbagai fasilitas penyemangat kerja seperti prospek karir, tunjangan, pelatihan dan program pengembangan diri.

Ini membantu karyawan untuk mengaktualisasi diri dengan penuh percaya dan semangat sehingga meningkatkan kreativitas para pekerja pada perusahaan tersebut.

Meningkatkan Sikap Percaya dan Keterbukaan Para Anggota Organisasi

Salah satu kekuatan dari konsep manajemen Z adalah memfokuskan diri untuk memastikan bahwa terdapat sikap saling percaya antar lapisan anggota organisasi seperti antar karyawan, manajer dan bagian-bagian organisasi lainnya. Rasa percaya pada organisasi membuat keterbukaan antar anggota meningkat dan integritas tinggi dari masing-masing individu pada organisasi tersebut.

Menjalin Hubungan Yang Erat Antara Karyawan Dengan Organisasi

Hubungan erat antara karyawan dan organisasi merupakan salah satu ciri kelebihan dari organisasi Jepang. Lingkungan kerja yang kondusif dan pemberdayaan karyawan sebagai anggota organisasi menimbulkan rasa bangga, self-esteem and actualization dan saling memiliki dalam organisasi atau perusahaan tersebut. Ini berakibat pada menguatnya hubungan antara pekerja dengan organisasi atau perusahaan tempat dia menggantungkan hidup.

Pendayagunaan Karyawan

Pemberdayaan karyawan sebagai anggota organisasi dalam menentukan sebuah keputusan dapat menjadi strategi motivasional yang memancing para karyawan untuk terus berkontribusi secara aktif kepada perusahaan demi suksesnya capaian tujuan organisasi melalui sumbangsing pemikiran mereka.

Meningkatkan Kualitas Solidarisme Kelompok Kerja (Teamwork)

Teori Z memastikan agar para karyawan dapat bekerja bersama-sama dalam lingkungan kerja yang solid sebagai team. Di mana dalam Teori Z, keberadaan teamwork (kelompok kerja) ini tidak memiliki struktur fungsional yang formal, kaku serta rigid. Sehingga koordinasi antar anggota organisasi, penyebaran dan pengelolaan informasi serta pembagian sumber daya sesama anggota.

Membangun Komitmen Karyawan Kepada Perusahaan

Teori Manajemen Jepang memfokuskan diri pada pengembangan kemampuan dan keahlian dari para pekerjanya. Begitu pula penciptaan inisiatif yang memastikan adanya koordinasi dan komitmen pekerja dalam melakukan tanggungjawab sehari-hari.

Mengenalkan Sistem Pekerja Yang Multi-Talent (Generalist)

Menurut William Ouch, salah satu kelebihan teori manajemen Jepang adalah pekerja harus memiliki pengetahuan dan keahlian mengenai berbagai aspek operasional perusahaan. Sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di tingkat manajemen. Ini juga termasuk dalam upaya mempromosikan kesempatan bagi pekerja untuk berkembang di semua bidang organisasi. Pihak manajemen juga harus memiliki rasa percaya akan skill dan kemampuan mereka di bidang tersebut.

Adanya Kontrol Sistem

Manajemen jenis ini memastikan bahwa ada struktur organisasi informal yang ditujukan untuk meningkatkan hubungan dan rasa percaya antar anggota dalam organisasi tersebut. Sehingga kontrol sistem dapat terjadi baik di dalam maupun di luar organisasi. Artinya, batas antar wilayah kerja (proses kerja organisasi) dan kehidupan personal individu hampir samar-samar sebagai bentuk kontrol sistem.


CONTOH KELEMAHAN TEORI ORGANISASI - MODEL MANAJEMEN JEPANG


Sebagai mana sebuah sistem, meskipun model manajemen Jepang memiliki berbagai kekuatan atau kelebihan, terdapat pula beberapa kelemahan teori organisasi model manajemen Jepang ini yang dapat disebutkan sebagai berikut:

Manajemen Yang Partisipatif Tidak Didukung Total

Pihak manajer tidak sepenuhnya mendukung para pekerja untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan organisasi karena kekhawatiran akan miskinnya pengetahuan pekerja di bidang yang dimaksud.

Pekerja Yang Tidak Bersedia Untuk Aktif

Pekerja kemungkinan besar akan merasa enggan untuk turut aktif menyumbangkan ide dan solusi sebagai bagian dari pengambilan keputusan karena takut untuk dicecar kritik dan pertanyaan kritis.

Retensi Para Pekerja

Sangat sulit mencari pekerja yang ambisius dan penuh loyal kepada perusahaan. Meskipun manajer berhasil membangun sebuah hubungan yang erat dengan pekerja untuk beroleh loyalitas, biasanya para pekerja tetap akan berpindah pekerjaan yang lebih aman dan terjamin masa depannya.

Budaya Yang Homogen / Kebudayaan Yang Serupa

Dari berbagai kelemahan Teori Z, ada salah satu kelemahan yang menjadi ciri khas dari negara Jepang, yaitu kultur budaya yang homogen. Sangat sulit bagi kita, utamanya bangsa Indonesia untuk menemukan kultur manajemen yang didukung oleh semua anggota organisasi. Mengingat masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Sehingga para pekerja biasanya berasal dari kebudayaan berbeda dan menerapkan kultur kerja yang sama untuk semua anggota adalah hal yang tidak mungkin bisa terjadi secara sempurna.

Struktur Organisasi Yang Kurang Jelas

Menurut Teori Z yang dikemukakan Ouch, sebuah organisasi harusnya tidak terstruktur secara kaku. Teori ini dapat menimbulkan berbagai permasalahan. Organisasi yang tidak terstruktur menyebabkan tingkat tanggungjawab pekerja menjadi kurang.

Berpotensi Menurunkan Performa Kerja

Seperti yang disinggung pada penjelasan di atas, Manajemen Jepang memberikan adanya reward atau hadiah pada pekerja yang berprestasi atau yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Jika tidak ada reward atau hadiah lagi ke depannya, pada akhirnya akan terjadi penurunan performa kerja dan beberapa konflik penuntutan adanya hadiag atau reward.

Tidak Dapat Diterapkan Pada Kebudayaan Bangsa Lain Yang Berbeda

Karena manajemen Jepang didasarkan pada kebudayaan bangsa Jepang yang unik, kemungkinan besar teori Z ini tidak dapat diterapkan di negara lain yang berbeda kebudayaannya.

Tidak Ada Solusi Final

Kelemahan akhir teori Manajemen Jepang ini yakni tidak menawarkan adanya solusi final untuk berbagai motivasi penyelesaian masalah organisasi yang berjalan di lingkungan berbeda.



Demikian penjelasan lengkap kelemahan dan kelebihan teori Z atau teori Manajemen Jepang yang diprakarsai oleh William Ouch. Sebagaimana sistem manajemen lainnya, teori Z juga memiliki kelebihan yang menguntungkan berbagai elemen anggota organisasi juga memiliki kelemahan dalam pelaksanaannya di kehidupan nyata.